Cerpenista: Microblogging Evolution

Image Hosted by ImageShack.us

Pertama kali menengok cerpenista, saya merasa”this is something!”. Tapi saat itu saya tak tahu bagaimana saya bisa berpartisipasi. Bukan karena navigasi yang tidak ketemu akan tapi karena saya tida tahu bagaimana harus memulai. Walaupun ada beberapa group yang menarik seperti Fabelia (I was thinking it would be as interesting as unspeakable creatures in Harry Potter like story), atau Jayustisia (berlomba-lomba menjadi jayus). Tetap saja saya masih susah memulai. Ibarat menunggu saat yang tepat untuk melempar kerikil melewati jeruji roda yang berputar, menunggu awalan kata-kata yang pas untuk menyambung tulisan ternyata juga menuntut kesabaran.

Saya membayangkan, andai ada sebuah sandbox untuk langsung nimbrung bebas, mungkin saya tidak akan menunggu terlalu lama karena takut salah atau takut dibentak-bentak anggota grup terkait.

Saya bayangkan juga, andai ada metode mirip untuk menambahkan ilustrasi. Cihui, alangkah asiknya. Lalu cerita yang komplit diterbitkan dalam edisi terbatas, hardcover, ahh, keren banget.

Memang asik, apalagi sebenarnya tidak ada batasan nyata dalam pemanfaatan layanan ini. Setidaknya sampai sekarang tidak ada larangan untuk memakai layanan ini sebagai portal penulis cilik. Walaupun ide ini sepertinya perlu penanganan khusus karena mungkin ada beberapa konten yang tidak cocok untuk anak-anak “di bawah umur”. Hmm, keponakan saya mungkin sangat senang kalau bisa punya teman-teman untuk menulis bersama. Akan jadi salah satu alat ekspresi dan pengejawantahan diri yang totally positive!

Eh, sadar tidak? Jika dilihat dengan jeli, sebenarnya konsep cerpenista ini mirip dengan kawin silang wiki dan microblogging. Alih-laih memodifikasi keseluruhan tulisan, pengguna hanya bisa menambahkan serpihan-serpihan tulisan baru. Serpihan-serpihan ini adalah ciri khas microblogging. Menarik bukan. Dengan jalan merunutkan ”percakapan” berdasar waktu di bawah judul yang sama, muncullah brand cerpenista. Sempatkah terpikir olehmu?

Bagaimana mungkin ide seperti itu tidak terpikir oleh kita? Atau sempat terpikir dan dieksekusi akan tetapi tidak pernah berhasil take off seperti cerpenista? Mungkin saya perlu mewawancari founder layanan ini. Lain kali saja ya? Saya janji ;)