Ideas: Wedding Invitation Card Designer


Image by puja

Background
I get constant e-mail from flickr telling me that someone has favorited my wedding invitation card. The photo has 73 favorites and 15 thousands view (since Oct 2006). This is a quite clear signal that people are digging this keyword.

What’s our “user focus”?

  • User will be able to design card: change background, and text, spice up card
  • User will be able to print the card (printing will be sub-contracted, worldwide)
  • User will be given optional URL to share their card online


What designer (other type of user/ecosystem player) will get?

  • Vote, credibility
  • % of transaction (freemium, print service, packaging service)

Please note that designer (as ecosystem player) won’t be available in early phase. Initial card design will be supplied by subcontracting design job. Print job will likely supported for local area until we can engage with international partners.

UI Guidelines

  • Simple javascript
  • Keep it web 2.0 clean
  • Copy Apple! :p


Navigation

  • Under 5 steps
  • Lazy registration for editing purposes and sharing card online

Activity flow

  1. Start new card or clone card design
  2. Choose background
  3. Put text
  4. Spice up card: add badges, ribbons, bubbles, etc
  5. Repeat from #2 (preview will be realtime)
  6. Optionally share card design
  7. Optionally print card

Epilog
This may not the best idea ever. But looking at the niche, it may just work. This demand will always there except breeding/mating formally is no longer necessary for human race. The ultimate revenue won’t come from ads but instead it will be print and packaging service. There’re many exit options to choose as service progresses. It can turn out to be generic card designer, event organizer, designer community, printing agencies, you name it.

I already have some people names in my head, eg: web designer, card designer. So in case anyone willing to invest in this idea, I’m ready to go :D

Zemanta Pixie

Twitblogging: Seberapa besar peluang clone digg di Indonesia?

Liat lintasberita.com, jd tau kecenderungan netter utk menyukai berita pop kontroversial ;)

Ini artinya msh ada segmen netter yg blm diakomodasi oleh pemain lokal

‘ngapain bsaing dgn digg?’. Gk bsaing, kt justru bmain d ekosistem digg etc, completely not competing but filtering and recommending instead

‘Tp bagaimana kt bs menarik user?’. Tahu gk klo user itu lbh suka dg rekomendasi org2 yg sudah ia ‘kenal’?

Jadi ya pastikan early adopter dan ‘selebritis’ nongkrong d situs ‘digg’ anda

Nah, utk mbuat early adopters dan ‘selebriti’ mau nongkrong dan aktif ini lbh menarik lg untuk diobrolin :d

Selain itu, hrs ada incremental changes utk menjaga mood user. Exclusiveness jg bs jd unsur menarik.

Okeh, sila dreply ya klo puna feedback. Saya mo tidur. Ngantuks …zzz..zz

Di atas adalah twitblogging yang saya lakukan semalam. Kerana tiba-tiba terpikir sesuatu dan tak ingin kehilangan catatannya, maka twitter pun jadi opsi menarik. Berhubung sewaktu di-tweet belum ada yang reply ataupun memberikan feedback, saya berharap something different di blog ini :D . I really-really love to discuss such thing. I want to grow, I want to know where I am strong at and where are my weakness. I want to grow, and you definitely can grow with me. Bersama kita bisa ;) . Ya kan?

PS:

Segmen yang belum terakomodasi adalah segemen penyuka berita non kontroversial/pop

Photo “Scott Beale / Laughing Squid” by Laughing Squid

Kapan cloud computing jadi tren di Indonesia?

Tulisan berikut ini adalah pemenuhan janji yang saya buat kemarin Sabtu. Tentang tren layanan cloud yang saya baca di GigaOm. Jika anda telah membaca url terkait GigaOm (When Is the Right Time to Launch Your Own Cloud?) maka anda akan tahu bahwa belakangan ini banyak pihak yang meluncurkan layanan berbasis cloud.

Cloud computing bisa diasosiasikan dengan kepemilikan grid atau farm. Dari sini saja sudah terlihat bahwa biaya yang dibutuhkan untuk mensetup layanan seperti ini tidaklah murah. Tapi bukan berarti penyediaan layanan seperti ini benar-benar sangat sulit. Setiap pihak yang punya computing resource yang cukup besar bisa menyediakan layanan tersebut. Contoh nyatanya adalah Amazon. Amazon selain menfokuskan diri pada penjualan buku (dan video, dll) ternyata berani mencoba niche market yang sama sekali belum disentuh banyak orang. Jika yang lumrah kita temui biasanya adalah virtual private server dan dedicated server mahal, maka Amazon benar-benar bisa membuat terobosan baru dengan penyediaan virtual server (Elastic Compute Cloud), storage server (Simple Storage Service) dengan harga yang tidak fixed berdasar waktu. Bayangkan saja, siapa yang berani memberikan tarif sewa server berdasarkan jam pemakaian? Dan tarif storage berdasar kapasitas?

Amazon tidak memilih jalan memberdayakan ad seperti halnya perusahaan-perusahaan lain. Ini adalah langka yang cerdas. Amazon benar-benar tahu apa kekuatannya. Amazon mempunyai hardware berlebih yang memang disetup untuk mendukung layanan utamanya yakni berjualan buku, dll. Kebutuhan hardware ini, semakin ke depan tida akan bertambah sedikit akan tetapi justru akan bertambah banyak. Pilihan menyewakan resource computing adalah komplemen usaha yang tidak memerlukan banyak modal karena sebenarnya sebagian besar permodalan dan maintenance telah dicakup secara otomatis di dalam fokus usaha utamanya.

Dari situ saya berpikir, kenapa di Indonesia tidak ada yang melirik pasar basah ini. Cloud computing adalah masa depan pasti! The big boys are doing it. Ini adalah opsi paling masuk akal dibandingkan dengan bersikukuh meneruskan model bisnis jadul dengan skema pricing yang tak masuk akal.

Oke, lalu siapa saja yang kira-kira berpotensi untuk bisa bermain dalam pasar ini? Tentu saja pihak-pihak yang mempunyai computing resource besar. Paling mudah, kita lihat saja siapa yang mempunyai page hit tinggi dan tetap bisa menyediakan response time yang bagus. Jika di luar negeri ada Slashdot effect, di Indonesia kita punya detik effect. Setiap orang pasti tak susah untuk menebak bahwa detik.com punya potensi besar untuk bermain di cloud computing services. Blogdetik adalah saya satu bukti kekuatannya. Blogdetik tentunya tidak bisa langsung di-serve dengan kekuatan dari detik.com saja. Saya cukup yakin pasti ada investasi tambahan untuk blogdetik. Upaya melakukan scaling secara horizontal tentu ada batasnya. Mau tak mau, walau mas Andry sudah mengeksploitasi nginx habis-habisan, hardware tetap akan jadi limit pasti di masa depan.Pada suatu saat pasti akan ditemui titik batas dimana horizontal scaling tidak lagi efektif tanpa disertai occasional vertical scaling.

Lalu, jika hanya pemain besar saja yang bisa turut serta, apa menariknya bagi kita-kita pemain kelas teri seperti saya (dan mungkin Anda)? Hehehe, walau cloud service sudah bisa dianggap niche market, sebenarnya masih ada banyak niche di dalam niche cloud service ini. Tidak ada seorang pun yang akan bisa memenuhi segala jenis kebutuhan cloud computing. Ini adalah peluang untuk merambah pasar spesialisasi cloud service. Contohnya ya SCC yang saya tulis kemarin. Contoh yang lebih mudah lagi adalah webhosting. Saya belum menemukan webhosting yang pelayanannya mencakup scaling. Yang ada adalah opsi upgrade yang kadang tidak masuk akal dalam hitungan budget para pemain baru. Layanan webhosting yang ready-to-scale pasti akan jadi pembeda tersendiri. Dengan meniru skema pricing progressif yang dipakai Amazon, webhosting pun bisa merendahkan barrier of entry. Rendahnya barrier of entry akan mengundang banyak konsumen baru yang mungkin bisa menjadi konsumen tetap. Siapa tahu salah satu konsumen ini bsia jadi pemain besar yang sekaligus menjadi your permanent cash-cow? ;)

So, kapan cloud computing jadi tren di Indonesia? Be the first!

Photo by Stuck in Customs