Posts Tagged ‘self-improvement’

Susan..susan..susan. Kalau gede, mau jadi apa?

Saturday, August 30th, 2008

Seorang klien pernah bertanya pada saya, kira-kira: kamu mau melakukan atau jadi apa di sama depan? Saya jawab:  going up. Menaik, menjadi lebih baik, memperoleh lebih bnayak, adalah definisi saya akan going up. Itu adalah jawaban yang smart dan sangat keren bukan? Jawaban saya ternyata salah :D
Saya tak pernah berhasil menetapkan saya mau jadi apa nantinya. Dulu saya senpat bercita-cita jadi insinyur. Ini sewaktu masih SMP. Saya belum mengenal profesi spesifik. Insiyur adalah profesi terdekat yang sejalan dengan minat saya waktu itu, ie: anything technical. Hmm, waktu itu saya suka dengan hal-hal semacam katrol listrik dan lengan mekanik. Bukan-bukan, bukan yang sangat modern.Waktu itu justru tepat guna.

Lalu saat ini? What do I do? I’m blogging about SEO and copywriting. But I live from writing codes. LOL. Dalam suatu saat dalam hidup saya, saya juga pernah membayangkan jadi profesional blogger seperti Budi Putra :D . Sementara di lain waktu I’m very passionate on writing javascript and reading anything about KDE. Social Media Expert atau 1337 coder?

Yep, Anda benar, ini (mungkin) adalah kesalahan besar. Tanpa the big plan bagaimana mungkin anda bisa merencanakan dan menjalankan small plans along your life? Saya perlu memilih. Ataukah saya perlu beberapa tahun lagi untuk menjalani dan mencari tahu what am I really want or up to?

Jawaban saya tadi salah. Seharusnya saya sudah memilih vertical tertentu. Entah itu di social media atau (web) development. Kline saya berkata, look at me, beberapa tahun lalu saya menjalani jabatan ini, kemudian setahun kemudian saya suda mencapai jabatan ini, setahun lagi, saya sudah jadi ini. Saya terpukul. Cukup keras tapi tak cukup kuat untuk menjatuhkan jawaban yang benar dari kepala saya. Kalo gede mau jadi apa?

Enhanced by Zemanta

The Haunting Questions – Pertanyaan-pertanyaan yang menghantui

Friday, August 29th, 2008

Meskipun saya percaya pada better die trying atau what matter is trying and not the result, tetap saja tak banyak yang saya lakukan. Jika dipikir, apa yang saya alami saat ini sudah berbeda dari apa yang dulu sempat saya rasakan. Jika dulu di jaman kuliah, apapun yang terpikir akan segera dilakukan maka sekarang apapun yang terpikir akan dipikir kembali dan akhirnya tenggelam dan terlupa. Proses rethinking selama ini ternyata justru banyak membunuh ide karena kerap kali atau jika tak selalu mementahkan ide-ide yang ingin saya implementasikan.

Contoh paling jelas bisa dilihat dari beberapa post saya yang sebenarnya berisi ide tapi tak kunjung dijalankan. Memonetisasi SOLR, wedding card invitation, apalah.itu sampai sekarang tak ada yang berwujud. Selain termentahkan oleh proses rethinking, ide-ide ini juga tergilas oleh redupnya tenacity. Energi. Ya,saat ide muncul pertama kali,ada energi meluap-luap yang membuat saya sangat yakin akan feasibility ide dan tersedianya kemampuan mengimplementasikannya. Namun seiring berjalannya waktu, walau ide sempat termentahkan, akhirnya tenacity pun hilang. Begitu energi memupus, maka ide pun perlahan-lahan menjadi mentah kembali.

Hilangnya energi ini dugaan saya berasal dari unprogressing process. Mungkin ada peristiwa overdesign dan overarchitecturing atas ide saya.Sehingga di tengah jalan, bukannya bisa didapati output malah didapati perasaan pesimis akibat rencana yang tak kunjung selesai. Walau ide sebenarnya bisa diwujudkan dengan nilai 70, saya kerap memaksakan pencapaian nilai 90 saat itu juga. Perfeksionis atau incapable of planning?

Overarchitecturing. Tenacity that’s going up and down. Those are two of identifiable question haunting my life.

Pernah atau sedang mengalami hal yang sama? Apa yang sedang atau telah kamu lakukan? Atau sudah ada yang berhasil mengatasi masalah ini? Bagi dong tipsnya.