Meskipun saya percaya pada better die trying atau what matter is trying and not the result, tetap saja tak banyak yang saya lakukan. Jika dipikir, apa yang saya alami saat ini sudah berbeda dari apa yang dulu sempat saya rasakan. Jika dulu di jaman kuliah, apapun yang terpikir akan segera dilakukan maka sekarang apapun yang terpikir akan dipikir kembali dan akhirnya tenggelam dan terlupa. Proses rethinking selama ini ternyata justru banyak membunuh ide karena kerap kali atau jika tak selalu mementahkan ide-ide yang ingin saya implementasikan.
Contoh paling jelas bisa dilihat dari beberapa post saya yang sebenarnya berisi ide tapi tak kunjung dijalankan. Memonetisasi SOLR, wedding card invitation, apalah.itu sampai sekarang tak ada yang berwujud. Selain termentahkan oleh proses rethinking, ide-ide ini juga tergilas oleh redupnya tenacity. Energi. Ya,saat ide muncul pertama kali,ada energi meluap-luap yang membuat saya sangat yakin akan feasibility ide dan tersedianya kemampuan mengimplementasikannya. Namun seiring berjalannya waktu, walau ide sempat termentahkan, akhirnya tenacity pun hilang. Begitu energi memupus, maka ide pun perlahan-lahan menjadi mentah kembali.
Hilangnya energi ini dugaan saya berasal dari unprogressing process. Mungkin ada peristiwa overdesign dan overarchitecturing atas ide saya.Sehingga di tengah jalan, bukannya bisa didapati output malah didapati perasaan pesimis akibat rencana yang tak kunjung selesai. Walau ide sebenarnya bisa diwujudkan dengan nilai 70, saya kerap memaksakan pencapaian nilai 90 saat itu juga. Perfeksionis atau incapable of planning?
Overarchitecturing. Tenacity that’s going up and down. Those are two of identifiable question haunting my life.
Pernah atau sedang mengalami hal yang sama? Apa yang sedang atau telah kamu lakukan? Atau sudah ada yang berhasil mengatasi masalah ini? Bagi dong tipsnya.