Bring It On Beijing

Pembukaan Olimpik semalam benar-benar membuat saya ternganga. Firework tidak hanya di stadion sarang burung, tapi juga tersebar di seluruh kota, ie: the giant step. Pemakaian human labour di acara ceremonial tersebut juga sangat memukau. Dengan masa latihan selama 10 bulan, atraksi sinkronisasi beratus-ratus manusia pun dipastikan berhasil menoreh sejarah.
Tapi itu belum mencakup semua hal yang mengagumkan. Isu kontroversial tentang pemakaian sumber daya alam akan saya lewati terlebih dahulu. Saya ingin bercakap tentang usaha Beijing dalam rangka mengubah perilaku sosial warganya.
Entah berapa jumlah dan yang dihabiskan untuk melakukan proses ini. Berbagai macam kampanye dilakukan, baik oleh aparat pemerintahan atau melalui koordinasi sukarelawan. Menakjubkan melihat usaha ini berhasil mengubah indeks perilaku warga Beijing dan bahkan mempengaruhi perilaku warga di kota-kota lain.

Beberapa perilaku yang diubah adalah budaya meludah sebarangan di jalan, budaya tidak mengantri, merokok di tempat umum, dan perilaku mengemudi (terutama pada alat transportasi umum seperti bus dan taksi). Berbagai macam booklet, spanduk dan billboard dibuat unutk mengingatkan warga supaya mengubah perilaku mereka karena kali ini dunia akan benar-benar melihat dekat. Sebagai orang timur, tampaknya budaya malu masih dianut sehingga reaksi dari warga pun cukup positif. Ini bisa dilihat dengan ada banyaknya sukarelawan yang turut berpartisipasi dalam program kampanye ini.

Khusus terkait budaya antri, sebelumnya keadaan di Beijing ini sama dengna apa yang bsia kita lihat di Indonesia. Tempat perhentian bus diceritakan selalu ramai dan tak teratur sehingga sopir pun harus berhati-hati jika hendak berhenti. Setelah kampanye berjalan, dari 10 menit yang diperlukan untuk naik bus kini hanya diperlukan 3 menit saja karena adanya antrian yang tertib. Seorang professor di Universitas Remnin menjelaskan budaya tidak antri ada kaitannya dengan pembangunan di China yang melaju sangat cepat yang sepertinya membuat orang-orang takut tertinggal di belakang, sehingga akhirnya memunculkan fenomena kebiasaan memotong antrian.
Apakah pernyataan tersebut juga berlaku di Indonesia?

Dari pengalaman pribadi, di bulan-bulan awal di Jakarta saya masih taat dengan mengantri dengan tertib di busway. Berdiri di belakang pintu dan tidak memotong dari samping baris di samping pintu adalah bentuk antrian sebenarnya. Setelah beberapa lama waktu berlalu saya pun bisa berkata pada istri saya: “Ngapain ngantri di situ (lurus pintu), sini aja lebih cepet (dari samping pintu)”. Kenapa hal seperti tersebut terjadi? Survival instinct. Semua orang di halte adalah predator, saya juga termasuk predator, dan mangsanya adalah bus Transjakarta yang populasinya cukup langka dan keberadaannya tidak bisa ditebak berdasar musim ataupun tanda-tanda alam lain — termasuk jam. Predator must prey or die. Dan saya pun berani berdesakan atau memotong antrian dari samping pintu. Oh tidak, saya belum sampai tahap naik dari pintu penurunan penumpang walau banak orang tak hamil atau tak membawa anak kecil yang naik dari sana. Tragisnya, pernah saya melihat ibu dengan anak kecil yang ditolak naik dari tempat spesial tersebut. Ya, saya juga bingung dengan aturan yang seenak pusar penerapannya.

Mungkin ada baiknya Indonesia mengajukan diri menjadi tuan rumah olimpiade selanjutnya. Tapi mungkin harus bisa menabung dulu, 40 billion dolar, seperti China. Sepertinya bisa diawali dengan mengumpulkan uang hasil salam tempel pejabat dan eksekutif negara.

Photo by Theo W L Jones

Singapore Enterpreneur Culture

The other night, on yet another taking-care-of-the-project-do-not-let-the-website-down, I bump into Singapore enterpreneur community site. I started with the video cast, The Geek Goddess Show, via sgenterpreneurs.com.

It is pretty amazing for me to live a while in the country with such environment. To see such youngsters to ignite and pull out an energetic event own their own is very motivating. Further, looking into podfire.sg, one of a startup, we can watch many interesting startup video pitch. It’s thrilling to watch and asking myself, when I’m gonna stand in front and presenting one of my own.

Above moment made me think of why Singapore startups look so lively. I can identify four major causes.

First, internet is a common culture. I don’t have any evidence to show that average people here, especially young generation, are internet savvy. However, URL is a common thing to see in TV, ad board, and maybe in other media as well. This is a fertile ground where potential consumer are waiting to be “fed”.

Second, broader connectivity. I can watch youtube, streams last.fm, load flash app without feeling any lag. Most of RIA demands broader bandwidth to compensate features. Not that small bandwidth does not promote creativity and innovation, only that sky-limit environment is a guarantee of unbounded experiment.

Third, available incubators. Incubation is a well known and well supported process by many institution. NUS has their own annual event where startup can take the challange and get funded. Indonesia is not yet near this stage, however some effort seem to be seeded already, eg: INAICTA event, though it’s not designed to look for and fund an idea.

Enterpreneur community. So far, I can only found e27. However, I suspect there are already some startup and wannabe-founder connected via thin line translucent network. Only during a specific event, those enterpreneurs will be visible.

Last but not least (bonus): stop thinking out of the box, get out of the box instead! (quoted from Poh Kam Wong, Professor at NUS Business School and LKY School of Public Policy; Director of NUS Entrepreneurship Centre; Angel investor)

It’s true, there may still many other major or subtle causes that I didn’t notice. You can try to find it yourself by surfing dot sg domains.