Archive for the ‘Regular Hours’ Category

The world I meant to be

Tuesday, September 16th, 2008

Got an ephipany. I can write something. Recently, I’ve been thinking on why am I suddenly crossing into social and economic/marketing side of the internet. Coming from technical background, the root of why Social is interesting would have been the mashup part. An the economic and marketing stuff may come up because I want to build something on my own feet. It’s a necessity to validates myself and thoughts. Yet, I cannot still believe how far away I am from what I had been before migrating to Jakarta.

I don’t write nor play with much code anymore. New libraries and frameworks are just news and not for touching. I left OSNews and Slashdot, read more on RWW and friends. Why? It doesn’t mean that I don’t love Javascript or PHP anymore. PHP is my bread and butter, literally.

I suspect it’s time management that has casted me on this stranger land. A world where I must crawl again to carve my existence. I feel very “bloon” in this side of the cyber. The one hour to go to office and another hour to go home left me with no energy but to read. And reading is what I’ve been doing. No code involved so mind twisting and logic bending is the new toy.

Maybe it will get me somewhere. But I’m quite afraid that I’ll end up having no speciality as I’ve come late in the race. Everyone is running and I am still looking for my shoe.

Is this really the world I want to be? Is this the world I meant to be?

Enhanced by Zemanta

The Mummy: Tomb Of The Dragon Emperor

Monday, August 11th, 2008

Seperti biasa, trailer suatu film memang kadang kala  tak bisa dipercaya. Terkadang railernya tidak mengigit eh ternyata filmnya bagus. Terkadang trailernya ruar biasa, yah ternyata film-nya gitu-gitu saja.

Bulan ini rasanya banyak sekali suguhan film baru. Ironman, Dark Knight, Hellboy, The Mummy, dan Journey to that center of the earth. Don’t know what else to come. Tiga dari film tersebut adalah sekuel. Dua dari sekuel tersebut, jujur saja, belum sempat saya tonton :D . Dengan sedikit keberuntungan disela kelelahan meluncurkan project, saya memaksakan diri (”nodong bos”) menonton The Mummy.

Dalam ingatan saya, prekuel The Mummy menyisakan kesan petualangan tanpa henti ala Harry Potter. Wallaw, penggemar fanatik dua film ini bisa menghajar saya :) ). Bukan maksud saya menyamakan dua film, hanya saja memang film tersebut punya kemiripan. Seperti yang saya katakan, ada petualangan tanpa henti dari menit ke menit.

Sayangnya, kesan saya tersebut ternoda dalam The Mummy kali ini. Memang ada plot yang mirip dengan prekuelnya, kebangkitan tentara kuno (gotta look up Wikipedia) mirip dengan kebangkitan tentara raja mummy mesir. Sisanya terkesan seperti petualangan yang terpotong-potong. The worst part, saya tak sabaran menunggu pengantar cerita yang rasanya satu jam sendiri :) ). Kesan terakhir? Mungkin ini lagi-lagi usaha agak hopeless dari Hollywood untuk menyajikan kisah Timur ke dunia Barat, mirip dengan spin off Kera Sakti di film Jacky Chan+Jet Lee beberapa waktu lalu. Sorry jacky dan jet lee :D .

Memadukan timur dan barat memang tidak mudah karena kultur film  Timur dan Barat punya ciri khas tersendiri. Atau mungkin gara-gara pemeran jagoan wanitanya yang diganti, seperti yang dicemaskan oleh banyak orang?

Yang baru-baru minggu ini

Monday, February 25th, 2008

Almari atau lemari ya nyebutnya? Well, almari aja deh. Lemari sepertinya bahasa daerah deh :D . Yak, almari ini sebenanrya sudah nongkrong seminggu menunggu dirakit. Akhirnya baru kesampaian hari minggu kemarin saya rakit sendiri dibantu istri (dengan perkakas meminjam toolbox bapak kos). Almari ini punya sejarah yang tidak mengenakkan alias menyebalkan. Almari ini dibeli di carrefour, yang mana kata bapak kos memang mahal, seharga 200-an ribu (entar saya tanya lagi ke istri berapa kemarin pas-nya). Ongkos nganter ke Tebet 50 ribu. Tidak ada service untuk merakitkan almari ini bagi pembeli which is terribly annoying since who the hell has enough time to do such thing in Jakarta :p. That mindset should be well known enough for carrefour, no? Apparently not. And then, waktu pengantar almari (yang tidak punya service rakit) ini hendak pulang, masih sempat juga minta uang es. Eh, Carrefour bisa bener dikit gk sih ngasih service. udah kena 50 rebu dari Ambassador-Tebet, eh mitra pengangkutnya masih milih yang seperti itu. Amit-amit deh.

Seteah almari selesai dirakit, istri saya take-over merapikan barang-barang yang hendak ditransposisi ke dalam almari. Saya membantu anak ibu kos mengerjakan PR IPS terpadu. Setlah itu diteruskan merakit Tieren Ground Type yang sempat saya beli di Margo City. baru sekali ini seperitnya saya mampir ke Margocity meskipun ebberapa kali bolak-balik Depok-Tebet. Tempatnya luas dan toiletnya pun bersih :) .

Okay, berikut ini foto-foto terkait.

step #1

step #2

step #3

voila!

tieren ground type

Oh ya. Beberapa waktu yang lalu, saya mencoba untuk membuat podcast. Yang mana membaut saya ngakak sendiri karena suara saya yang tidak jelas dan tidak bisa melafalkan “r” serta .. lebih mirip suara anak kecil cewe mau nangis :) ). Lihat saja di sini: http://neofreko.podbean.com/2008/02/24/first-debute-testing/




Update:

Ternyata, sekitar 3 tahun yang lalu, Abe juga merakit lemari (link via sangprabo via komen). Di-update biar entry abe da[et trekbek.