Mencari Surga Otaku di Singapura

Siapa yang tidak tahu bahwa Singapura punya banyak mall besar. Mencari baju dan pernak-pernik adalah hal mudah. Mulai dari baju mahal sampai baju-baju “3 for S$10″ khusus untuk buah tangan, semua tersedia. Lalu bagaimana dengan barang-barang khas otaku? Pastiny ada juga kan? Tidak mungkin tidak tersedia karena ini adalah segmen niche. Jika di antara sekian manusia ada yang disebut “budak” mode, maka ada punya niche yang jadi “budak” kultur anime/manga/tokusatsu.

Khusus untuk tokusatsu — terutama kamen rider — dan beberapa item anime popular (misalnya Yu-Gi-Oh, Pokemon, Bakugan, dll) bisa kita jumpai di mall umum atau Toy R Us dan bahkan di Carefour. Sisanya, koleksi-koleksi khusus dan lebih bervariatif harus dicari di tempat-tempat tertentu. Berikut ini beberpa tempat yang sempat saya kunjungi.

Vivo City. Di sini ada Toy R Us juga sebenarnya untuk mencari koleksi generik. Untuk koleksi khusus, ada sebuah toko di depan Golden VIllage (cinema) yang menjual bermacam action figure. Ada die cast kendaraan perang, dan tak ketinggalan pula figur dari anime. So pasti ada death note dan dragon ball. Untuk figure dragon ball atau naruto sepertinya ada koleksi figur kecil-kecil yang bisa didapat dengan biaya S$20 per lima buah figur. Harga yang cukup masuk akal, akan tetapi saya lebih menahan liur pada figurine Asuka Langley dengan casual european dressing yang dibandrol dengan harga sekitar S$25.

Tempat selanjutnya ada di Bugis Junction. Lantai dua kalau tidak salah, dekat dengan mini Kinokuniya(?). Liur saya menetes melihat figur Eva 00 yang berlabel S$50. Di sini juga bisa ditemukan berbagai macam figur dan die cast lain yang menurut saya kualitasnya mantap untuk dijadikan pajangan. Hell yeah untuk hellboy, dan Eva 00 tentunya. Saya agak lupa sepertinya ada Eva 01 juga. Pokoknya ngiler deh.

Masih ada tempat lagi yang bisa dikunjungi. Tentu saja, Kinokuniya. Salah satu tempat yang membuat saya sempat berpikir: I wish I’m lost here. Selain koleksi buku Barat, Kinokukiya di Takashimaya juga punya separuh toko yang dikhususkan untuk pembaca huruf kanji, dan tentunya juga para otaku. Tidak ada action figure yang dijual di sini. Pun yang dijadikan pajangan hanya sedikit. Tapi ada banyak koleksi artbook yang membuat jantungan karena pengen memiliki. Sebut saja artbook Patlabor. Masih ingat  Grifon? Atau artbook GITS? Oh, Motoko Kusanagi. Atau majalah khusus bersampul Konata dan berisi konten Konata dan teman-teman. OMGOMGOMG, I’m dying to buy one. BTW, di Takashimaya ini saya bertemu buku “How to awake the enterpreneur inside you”. Sekitar S$50, OMG, pengen rasanya saya bawa buku hardcover itu ke kasir.

Tempat terakhir. Yang sempat saya kunjungi sekaligus melihat WCG 2008 (yang tinggal final World of Warcraft antara tim China dan Malaysia), adalah Suntec. Surga otaku bisa ditemukan di MyPlayGround. Saya agak lupa Suntec tower berapa, yang jelas berseberangna jauh dengan Galeria Dome (tembusan City Hall MRT). Di dekat Eng Wah dan Rock ada toko yang menjual berbagai macam figure. Yang paling banyak sih Lego dan Starwars yang sedang trendi. Tapi ada juga beberapa koleksi figur manga/anime yang menarik. Saya agak ingin beli hmm apa ya itu namanya. Seperti figur chibi tapi bisa ditukar-tukar body partnya untuk membuat penampilan baru. Selain toko ini, juga terdapat toko yang menjual berbagai macam replika  pedang. Mulai dari pedang dari Eropa, dari film Troy, dari Hellboy, sampai dengan pedang milik Hiro. Ada juga pedang-pedang dari seri Bleach. Baik dalam bentuk shikai atau bankai. Zangetsu, ban-kai!

What I will miss about Singapore

To live about one and half month in Singapore has given me joys and new knowledge. Project execution work as planned, without too much hiccup or show stopper. Technically, I learn some cool code-fu jutsu while completing the project. But that’s not what I want to higlight.

To live in Singapore for me means thinking more about what you do and thinking less about the rest. Either for leisure or for profit, you don’t need to burden your mind with significant others. Transportation? S/MRT is your best friend. Granted, some Singaporean has been complaining about the aging MRT. Indeed you can see the bone must have come from the ancient age, but the experience is still way much better than Transjakarta. Every now and then the MRT come by to serve the waiting passenger. The MRT only stop at the designater shelter, not in the middle of traffic light nor somewhere inapproprate.

The SMRT (subway) is even better. Every five minutes there will be train coming in both direction, going from or going to. On peak hour the train will be full but not until as full as Jakarta’s electric train. It is full as people can humanly fit, not as full as packed sarden can as you may experience in Jakarta.

Paying the S/MRT ticket is also “addictive”. You only needed to attach your Ez-Link prepaid card (contactless smartcard) on the given gates (for train) or devices (bus) and you’re ready to go/leave. The same scheme applies to parking, taxi, McDonalds, tolls (ERP), and other merchant supporting this electronic payment method.

Thinking more about what you want to do and thinking less about the rest. Means I can comfeniently type this post, while enjoying ChannelNewsAsia without worrying about how tough my transportation experience tomorrow, nor worrying about where I can have breakfast, lunch and supper. S/MRT will be there, and food are everywhere to found.

Thinking more about what you want to do, and thinking less about the rest. I will be missing Singapore.

PS:

I’ll be (finally?) back to Jakarta this afternoon. Talking bout reality, reality hurts.

Yang baru-baru minggu ini

Almari atau lemari ya nyebutnya? Well, almari aja deh. Lemari sepertinya bahasa daerah deh :D . Yak, almari ini sebenanrya sudah nongkrong seminggu menunggu dirakit. Akhirnya baru kesampaian hari minggu kemarin saya rakit sendiri dibantu istri (dengan perkakas meminjam toolbox bapak kos). Almari ini punya sejarah yang tidak mengenakkan alias menyebalkan. Almari ini dibeli di carrefour, yang mana kata bapak kos memang mahal, seharga 200-an ribu (entar saya tanya lagi ke istri berapa kemarin pas-nya). Ongkos nganter ke Tebet 50 ribu. Tidak ada service untuk merakitkan almari ini bagi pembeli which is terribly annoying since who the hell has enough time to do such thing in Jakarta :p. That mindset should be well known enough for carrefour, no? Apparently not. And then, waktu pengantar almari (yang tidak punya service rakit) ini hendak pulang, masih sempat juga minta uang es. Eh, Carrefour bisa bener dikit gk sih ngasih service. udah kena 50 rebu dari Ambassador-Tebet, eh mitra pengangkutnya masih milih yang seperti itu. Amit-amit deh.

Seteah almari selesai dirakit, istri saya take-over merapikan barang-barang yang hendak ditransposisi ke dalam almari. Saya membantu anak ibu kos mengerjakan PR IPS terpadu. Setlah itu diteruskan merakit Tieren Ground Type yang sempat saya beli di Margo City. baru sekali ini seperitnya saya mampir ke Margocity meskipun ebberapa kali bolak-balik Depok-Tebet. Tempatnya luas dan toiletnya pun bersih :) .

Okay, berikut ini foto-foto terkait.

step #1

step #2

step #3

voila!

tieren ground type

Oh ya. Beberapa waktu yang lalu, saya mencoba untuk membuat podcast. Yang mana membaut saya ngakak sendiri karena suara saya yang tidak jelas dan tidak bisa melafalkan “r” serta .. lebih mirip suara anak kecil cewe mau nangis :) ). Lihat saja di sini: http://neofreko.podbean.com/2008/02/24/first-debute-testing/




Update:

Ternyata, sekitar 3 tahun yang lalu, Abe juga merakit lemari (link via sangprabo via komen). Di-update biar entry abe da[et trekbek.