Updates from October, 2007 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Akhmad Fathonih 9:39 am on 10/30/2007 Permalink | Reply  

    Git, Subversion, and Akatsuki 

    Akatsuki

    Sorry, I can’t help not including Akatsuki here as it should have been my post. But in the last minute, mas Ariya (seleb KDE) from the KDE fame, changed my mind.

    Mas Ariya berkomentar tentang hari gini diriku masih memakai svn instead of git (git-svn). Hari gini dimana decentralized repository is the way to go, eh kok saya masih saja pakai Subversion. Meskipun posting komentarnya sudah pake smiley, I can’t help replying it seriously. Afterall, I need to cast away this gloomy mood of mine. So here I go. Ikuyo ..

    Actually, I’ve been fascinated by decentralized repo. Where we can go wild on some project while still able to have the joy of versioning. Correct me if I’ve been holding wrong understanding looo. Decentralized repo berarti kita bisa nge-hack sampe sepuasnya tanpa harus (manually) export, membuat repo baru lalu melakukan versioning di repo lokal kita supaya tidak merusak source code di original repo. We can then push our changes to original tree when we feel it good enough.

    Tapi mas, sejauh saya pernah membaca dan mencoba, untuk bisa merasakan decentralized repo semacam git. We have to pull out the whole changeset (?). Which sometimes can be humongous. Dan umumnya tidak baik bagi kondisi internet di Indonesia yang koneksinya Senin Kamis :p. Ya, saya memang meng-exclude Anda-anda yang tidur di sambing kabel fiber optik.

    Dulu pernah mencoba svk, tapi masih bingung dan sepertanya saya salah pake karena saya selalu push back langsung ke original repo instead of local ones. Dan untuk git, saya dulu pernah mencicipi sewaktu berusaha mengkompile Xorg 7.x demi Beryl.

    Mohon pencerahannya mengenai git ini. I’ve seen even gnomers are using git as well lately.

    Aku pengen ikutan cosplay~!!

    Powered by ScribeFire.

     
    • paydjo 10:28 am on 10/30/2007 Permalink

      waduh, gw pake svn di linux aja masih puyeng :( (

    • aldi 10:32 am on 10/30/2007 Permalink

      pengalaman saya pake git sih, yang segede-gede gaban itu pas pull pertama aja. selanjutnya kecil-kecil banget kok. dan emang, sejak nyoba pake git, saya meninggalkan svn. thanks to video presentasi linus tentang git di google :D

    • Akhmad Fathonih 11:00 am on 10/30/2007 Permalink

      @aldi
      indeed, memang pas awal-awalnya saja yang segede gaban. Sepertinya cocok untuk keperluan rutin, tapi jadi Great Wall of China bagi para pencicip/newbie project. Hehehe, mungkin mekanisme pemakaiannya saja yang harus dibuat strategi supaya tidak ciut duluan waktu harus dihadapkan pada download gaban saat mau join ke repo. Misal: kirim patch instead of direct comitting :) . Tapi cuman sekali dua kali itu saja. Selanjutnya, jika pengen rutin, harus rela nge-pull gaban :D

    • adit 1:28 pm on 10/30/2007 Permalink

      ada artikel menarik tentang perbandingan CVCS Vs DVCS

      http://blog.red-bean.com/sussman/?p=79

    • ariya 6:15 pm on 10/30/2007 Permalink

      Ya kalo misalnya dari subversion server di kampus/kantor/tempat kerja, ambil changeset yang pertamanya lokal saja, kan pasti supercepet.

      Kalau dari google project hosting, dari pertamanya aja pake git. seterusnya modal git-svn dcommit (dan rebase kalau perlu).

      Atau untuk kasus lain, kalau memungkinkan dapat svn dumpnya, rasanya bisa dicomot begitu saja, restore di subversion server lokal, lalu pull dari sana. Lebih cepat dari remote.

    • Akhmad Fathonih 7:00 pm on 10/30/2007 Permalink

      @adit
      yes, makasih linknya .. mau saya baca dulu :D

      @ariya
      Yes, semuanya akan indah kalau bisa diakses lokal, thus decentralized versioning is the way to go :D

      Saya barusan kepikir mas, ada sedikit ketakutan yang terpercik akibat git. Jika bandwidth dan space yang diperlukan untuk pull sebuah project semakin meningkat seiring waktu, saya takut (secara implisit) hal ini akan me-reject developer-developer baru. Khususnya bagi developer yang belum memiliki peruntungan baik dengan bandwidth, apalagi yang moodnya cederung gampang berubah macam saya. In the long run, bisa-bisa developernya menyusut atau tidak banyak mengalami penambahan :p

      Ah, ini hanya alasan saja bagi saya untuk malas dan menunda partisipasi :p. In the long run mungkin bandwidth hanya akan jadi cerita lucu buat anak cucu. “Bandwidth? Grandpa is sooo nineties” :p

    • ariya 7:47 pm on 10/30/2007 Permalink

      IIRC kalau ‘git clone’, bandwidthnya lebih efisien dari ‘svn co’. Terus, space-nya yang dimakan juga lebih sedikit. Kadang, *seluruh* changeset git (direktori .git) lebih kecil dari *sebagian* repo subversion yang lokal (direktor .svn).

      Masalahnya kalau mau mix-and-match svn+git. Tapi ini sebetulnya mudah saja, apalagi kalau repository git kita nggak perlu menyimpan *semua* history svn yang remote. ‘git-svn fetch’ saja revision yang mau diambil.

      AFAICS git justru menolong *menambah* developer baru. Mereka sekarang tidak perlu selalu offline, bisa pull+push changeset kapan saja (bahkan lewat email).

    • Akhmad Fathonih 8:15 pm on 10/30/2007 Permalink

      Ahh, begitu ya. Rupanya selama ini saya tertutup awan mitos dan ketidakberuntungan jumpa pertama (dengan git).

      BTW mas, untuk mencapai kondisi ideal “kadang” di atas, kira-kira apa prasyaratnya? Kondisi apa saja yang harus terpenuhi?

      Untuk git-svn fetch, itu berarti kita mengawali git repo kita dari revision tertentu ya mas? Sepertinya good enough untuk kasus-kasus yang pernah saya alami — a.k.a kasus sekedar mencelup kaki ke repo :p

      Yang terakhir, “offline” itu mestinya “online” kan?

    • ariya 9:04 pm on 10/30/2007 Permalink

      Idealnya sih kalau nggak banyak file binary karena IIRC git memakai kompresi data (dari zlib). Lebih mantap lagi kalau nggak commit :-) (tapi yang terakhir ini ya nggak berguna hehe). Coba aja deh, nggak usah terlalu dipikirin. Nanti akan “terkejut” sendiri dengan efisiensi git.

      untuk ‘git-svn fetch’, lebih cepat paham dengan man:git-svn dan gg:git-svn di konqueror. dijamin kurang dari 5 menit sudah bisa dicoba. lebih cepat dari baca penjelasan svk…

      Yup, s/offline/online.

    • Akhmad Fathonih 9:24 pm on 10/30/2007 Permalink

      Oke, terimakasih mas Ariya untuk penjelasan panjang lebarnya.

      Demikian pemrisa, telah kita dengarkan bersama wawancara bersama mas Ariya Hidayat of KDE/KOffice/Speedcrunch fame, langsung via teleconference dari Jerman.

      Sekarang kita kembali ke Studio Satu untuk wawancara lain, teleconference pun. Di Studio Satu, bersama kita telah tersambung presiden KDE e.V. itself, Mr. Aaron J. Seigo, yang akan memberikan kata sambutan dalam rangka detik-detik rilis KDE 4.0 *haiyah* :) )

      Semoga saya bisa mencoba git di kesempatan memilih repo di kemudian hari :)

      Ehem, silahkan mister Seigo ..

    • Black_Claw 11:07 pm on 10/30/2007 Permalink

      Itu foto cuman buat kalimat footer saja???
      *geleng2*

    • Akhmad Fathonih 11:46 pm on 10/30/2007 Permalink

      ya nggaklah … aselinya malah pengen cerita akatsuki *serius*

  • Akhmad Fathonih 7:31 pm on 10/23/2007 Permalink | Reply  

    *tarik napas dalam-dalam* 

    Baru aja kubilang ke Lina: “Ya, minimal lebih kenceng lah daripada yang ada sehari-hari (pagi sampai sore). Jadi gk stress gitu kalo misalnya lagi pengen ngenet”. Sampai di kosan, eh ini aksesnya kok peak di 0.5KB. Huanjriiittt!!!! Padahal banyak yang harus dikerjakan, kok koneksi lemot macam gini. I’ve done quite a productive day. I wanna reward myself with a smooth access, upgrading fluxbox, dropping by at facebook and replying comment  on kde-apps.org about Kate File Tree plugin.

    Pengen nulis agak panjang tentang musik yang cocok untuk berinteraksi dengan komputer. Membayangkan musik yang nonstop sepertinya cocok juga untuk coding. Misalnya house music yang tidak ada ujung pangkalnya. membyangkan kalau musik yang dipilih bisa “disetel”  supaya bisa go wild dan go calm down. Dan transisinya harus smooth seperti crossfade.

    Pengen cerita tentang bapak sopir taksi yang nyetel musik house tapi rada gk sabaran. Huh, sengaja kukasih tips biar bapaknya merasa bersalah. Muwahahahah!!!

    Pengen cerita juga tentang FoodFest, tempat makan baru deket kos2an yang dapet komentar “Enak sih .. tapi lama banget bo”. Juga tentang pergantian nama apotik yang sering adek dan aku pakai sebagai poin navigasi kalo naek taksi. Dari apotik Bentar menjadi apotik Srii.

    Ya sudah gitu aja! Jangan banyak cincong klo tulisannya terlalu singkat dan tidak terlalu naratif. Sudah mending ada update ini! Dari kemaren netbeans-ku ngaco fitur subversionnya. Udah gk bisa ngapain2 pake svn. Padahal udah ngempet beberapa updetan penting yang harusnya dipush ke repo gratisan di google.

    Huh!!

    *berbalik, menyisakan lambaian jubah geng sepeda motor, dan kelbat pedang kendo di pundak*

    *berjalan angkuh menuju motor, meninggalkan Minoru Siraishi dan Akira Kogami yang berseteru*

    Muwahahahahah!! *ketawa licik bak wali kelas Bunga Matahari*

    Powered by ScribeFire.

     
    • Kramero 8:47 am on 10/25/2007 Permalink

      memangnya koneksi di rumah pake apa Ton..?

    • Akhmad Fathonih 9:10 am on 10/25/2007 Permalink

      pake PSN kalo ndak salah … lagi lamabt bener beberapa hari ini, kencengnya jam 11 ke atas sampai pagi-pagi (sejauh sempat nyoba) ..

      Ah, Indonesia

    • Black_Claw 8:24 pm on 10/25/2007 Permalink

      Minorunya nyanyi gak?!

      rekam!

    • Akhmad Fathonih 9:16 pm on 10/25/2007 Permalink

      @BlackClaw
      Nyanyi dong, tapi yang ngerti cuma pas Lagu Haruhi dan Lucky Star .. eh kmrn itu ada aksi Ultraman-nya gk sih, lupa-lupa inget .. ngakak aseli. Baru kali ini ending anime selalu ditungguin sampe selesai.

    • Abe 9:45 pm on 10/25/2007 Permalink

      Wali kelas bunga matahari yaiksss…

    • Ariya 8:58 am on 10/30/2007 Permalink

      Hari gini masih pake svn? :-) git (plus git-svn) rulez!!

  • Akhmad Fathonih 12:11 pm on 10/2/2007 Permalink | Reply  

    Drupal 

    I f**ing hate Drupal theme-ing!

    Powered by ScribeFire.

     
    • iang 10:44 pm on 10/2/2007 Permalink

      wakakka.. emang ribet sih.. tp bisa jadi fleksibel juga

c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
shift + esc
cancel