Utada Hikaru: Suara Hati

Photobucket
Sebenarnya ada tiga penyanyi Jepang yang kerap saya monitor lagu-lagunya. Ayumi Hamasaki sejak lagu Dearest, Utada Hikaru sejak First Love dan Koda Kumi sejak teman saya di kantor lama menunjukkan PV-nya ;) .

Ketiganya punya karakteristik tersendiri, tapi kali ini saya akan bahas Utada Hikaru dahulu. Utada Hikaru ini usianya masih di bawah 30, mungkin masih sebaya dengan saya. Salah satu kelebihan Utada Hikaru adalah dia dilahirkan dan dibesarkan di New York, sementara itu banyak penyanyi Jepang sendiri yang kurang fasih berbahasa inggris. Perbedaan ini tampak kentara di lagu Simple and Clean yang merupakan versi inggris dari Hikari. Di sini tampak Hikki (nama akrab Utada Hikaru di kalangan fans) begitu cemerlang menyadur dan menyanyikan Simple and Clean.

Lebih jauh tentang Hikari, lagu ini pertama kali saya kira sebagai lagu cinta. Kira-kira mungkin menceritakan kemesraan hubungan Hikki dengan pasangannya. Ternyata saya baru “ngeh” bahwa lagu mungkin ini adalah jeritan hati Hikki atas permasalahan yang dihadapinya (pada saat mau merit?).

Ya, begitulah, sedari dulu sepertinya Hikki selalu membuat dan menyanyikan lagu-lagu emosional yang tercipta dari berbagai peristiwa dalam hidupnya. Mungkin hal ini biasa juga dialami oleh penyanyi-penyanyi lain, akan tetapi dalam konteks Hikki hal ini terasa jauh lebih kental.

Dugaan saya, lagu hit pertamanya, First Love adalah curahan hati saat Hikki bertemu dengan calon suaminya. Be My Last kemungkinan adalah juga curahan hati Hikki yang sedang merana. Dan yang baru-baru ini, Heart Station adalah narasi perpisahan. Kemudian, masih dalam album yang sama, Fingthing The Blues adalah lagu perjuangan kemandirian Hikki.

Lagu-lagu Hikki adalah cerminan hatinya. Mungkin inilah yang membuat lagu-lagunya begitu laku. Mungkin aura “kejujuran” suara hati itu telah memikat kita semua.

PS:

Image taken from last.fm

My First Figurine


SGD $10

Originally uploaded by Framed Geek

I’ve been dreaming to have a figurine such as this. Plamo just doesn’t cut it. So, I’m very thankful to found 12th Toy Fare in Takashimaya. W00t, all break loose. My wife took several items, I took this one for SGD $10 only. Even though I barely know the character, still, it’s a great deal. All totalled in SGD $26. Yahaa!

PS:
There’re not many choices for figurines. Only some Street Fighters and some sad-moe faces. I picked this one for its grandeour hair and black suit

Exia: Completed

Dengan gunting kuku, jepit rambut, dan gunting, akhirnya Exia selesai dirakit. Sebenarnya kalau diburu bsia cepet sih, tapi saya memang sengaja menikmati prosesnya. Merakit beberapa step saja tiap harinya. Mulai dari hari apa ya kemarin sampai akhirnya semalam perakitan was completed.

Hailnya bisa dilihat sendiri. Kalau dilihat secara seksama ada beberapa cacat (tidak rapi) hasil aksi gunting kuku yang tidak bisa memotong dengan bersih. Ngomongin soal cacat, saya menemukan beberapa cacat produk di Exia HG ini. Tutup lutut kirinya ternyata “lodok” alias gampang lepas. Demikian pula dengan pisau yang ditempel di bagian belakang kiri. Sama sekali gk mau nempel, tapi langsung lepas. palagi Posisinya menghadap ke bawah, pas sudah tidak bisa dipasang.

Setelah Exia ini, saya berharap bisa melengkapi koleksi Gundam 00. Sementara istri saya menyarankan untuk mencari seri Zaku saja, biar pena pewaran yang dibeli kemarin tidak terlalu sia-sia. Saya mah sebenarnya setuju saja :D .
Exia: Completed
PS:
Masih menunggu Gundam Unicorn, hon.

Powered by ScribeFire.