Updates from May, 2008 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Akhmad Fathonih 9:02 am on 5/23/2008 Permalink | Reply
    Tags: digg, niche, , untouched   

    Twitblogging: Seberapa besar peluang clone digg di Indonesia? 

    Liat lintasberita.com, jd tau kecenderungan netter utk menyukai berita pop kontroversial ;)

    Ini artinya msh ada segmen netter yg blm diakomodasi oleh pemain lokal

    ‘ngapain bsaing dgn digg?’. Gk bsaing, kt justru bmain d ekosistem digg etc, completely not competing but filtering and recommending instead

    ‘Tp bagaimana kt bs menarik user?’. Tahu gk klo user itu lbh suka dg rekomendasi org2 yg sudah ia ‘kenal’?

    Jadi ya pastikan early adopter dan ‘selebritis’ nongkrong d situs ‘digg’ anda

    Nah, utk mbuat early adopters dan ‘selebriti’ mau nongkrong dan aktif ini lbh menarik lg untuk diobrolin :d

    Selain itu, hrs ada incremental changes utk menjaga mood user. Exclusiveness jg bs jd unsur menarik.

    Okeh, sila dreply ya klo puna feedback. Saya mo tidur. Ngantuks …zzz..zz

    Di atas adalah twitblogging yang saya lakukan semalam. Kerana tiba-tiba terpikir sesuatu dan tak ingin kehilangan catatannya, maka twitter pun jadi opsi menarik. Berhubung sewaktu di-tweet belum ada yang reply ataupun memberikan feedback, saya berharap something different di blog ini :D . I really-really love to discuss such thing. I want to grow, I want to know where I am strong at and where are my weakness. I want to grow, and you definitely can grow with me. Bersama kita bisa ;) . Ya kan?

    PS:

    Segmen yang belum terakomodasi adalah segemen penyuka berita non kontroversial/pop

    Photo “Scott Beale / Laughing Squid” by Laughing Squid

     
    • Felix 9:42 am on 5/23/2008 Permalink

      Iya nih cukup menarik kehadiran lintasberita.
      Namun aku prediksi sih tetap akan sekedar menjadi kuda hitam nya situs berita kompas detik.

      hehe ngetwit toh skr, ati2 1 twit = gopek kan haha.

    • Akhmad Fathonih 9:57 am on 5/23/2008 Permalink

      Menariknya lintas berita bagiku bisa dilihat dari popular post-nya. yang aneh-aneh gitu deh yang jadi post popular.

      Nge-twitnya pake EQO, jatuhnya lebih murah. Klo pake m.twitter.com 1KB per kirim/refresh kenanya 11 rupiah. Ya lumayan lah :p

      Mestinya dibikin twitter+mm bridge, tapi siapa yang mo bikin :p

    • uculan 10:27 am on 5/23/2008 Permalink

      bersama kita bisa :) )

      ternyata sampean juga buka lintasberita juga to mas ton, kemarin pas waktu ngimbangi kalian2 bloger dengan twit twit kie opooooo….:D

      masuk ke linstas itu….

      grow up, keep spirit…ajari mas lho :D

      -uculan-

    • Akhmad Fathonih 11:30 am on 5/23/2008 Permalink

      iya kmarin memang buka lintasberita cul gara-gara ada imel invitation. setelah liat kok ya rada males buka lagi :p .. rada kurang cocok dengan selera :D

    • Ivan Sielegar 12:11 pm on 5/24/2008 Permalink

      Ga perlu takut, asal lintasberita bisa mengutamakan content local past lebih menarik. Kalo cuman yg populer di internet, liat digg aja.

      jangan lupa algoritma yg kuat buat promosiin artikel. Play a niche.

    • Akhmad Fathonih 1:21 pm on 5/24/2008 Permalink

      Usulan yang bagus, play a niche. Untuk kontent lokal, kalau gosip sih pasti banyak :p. Akan tetapi untuk yang lain sepertinya harus mengerahkan tenaga offline. Saya kira di indoensia ini banyak lo berita-berita seputar teknologi, hanya saja justru beum banyak yang mengangkatnya ke internet. Satu lagi ceruk yang siap digali. Hayo siapa yang siap jadi Scobleizer versi Indonesia? ;)

      Ah, jadi kepikiran lagi soal wacana mencari sumber berita sendiri. Ditulis lain kali aja kali ya ;)

  • Akhmad Fathonih 8:29 am on 5/16/2008 Permalink | Reply
    Tags: infrastructure, irc,   

    Ideas: I can haz Twitter replaced by IRC plz? 

    This is yet another bath time ideas. How can we replace Twitter with something that is not rocket science? I think we can simulate Twitter using IRC. And these are how:

    • Each user will be given their own room. So, if I’m neofreko then I’ll have #neofreko
    • Twitter bot join every user room
    • Who following who will be kept in a dedicated database
    • Each time user post a message in his (or any) room, twitter bot will relay this message to other user room based on the who-following-who database
    • User can leave their room so they may have been replaced by a bot as well. We may want to keep an alias table for user-bot and real user
    • This user-bot will “provide” web-based UI so user is not required to join the room but, still, can access their room from external world. Accessing here may mean: views archive, views replies, and sends messages
    • Twitter bot can keep all recent messages to build the public timeline

    So, now we have

    • Other can see my twitter page by visiting my room, or accessing the web-based UI.
    • At any given time there’ll be at least two user instance in any given room, ie: user-bot and twitter-bot
    • No, the room won’t be available on public. Instead it’s only available in twitter LAN(d). Thus we can prevent evil bot from joining.

    And then we must consider

    • Netsplit issue. IRC wizard please confirm this: will this problem gone is all user coming from localhost?
    • Security. Whether this IRC is vulnerable

    Now, who want to fund me?! ;)

     
    • Fathir Hamdi N 11:38 am on 5/16/2008 Permalink

      dah pernah dengar http://kronologger.com/ pak?

      kronlogger itu twitter made-in-indonesia.. punya web API.. bisa posting lewat Y!m juga…

      ide menggabungkan kronologger dengan irc juga bisa juga.. tinggal apply API-nya di bot irc :D

      pengin nyoba?

    • Akhmad Fathonih 4:36 pm on 5/16/2008 Permalink

      Sudah pasti pernah denger dongs :)

      Wacananya di sini bukan sekedar menggabungkan IRC dan microblogging, tapi mereplace microblogging platform (internally) dengan model IRC.

      As we’ve known lately, twitter downs all the time :)

      Begitu Pak Fathir :D

      Lalu untuk mencoba menggabugnkan IRC+kronologger, hehe, belum tertarik sayangnya :D . But still, it’s a fun idea :)

  • Akhmad Fathonih 8:25 am on 5/12/2008 Permalink | Reply
    Tags: , , , virtual server   

    Kapan cloud computing jadi tren di Indonesia? 

    Tulisan berikut ini adalah pemenuhan janji yang saya buat kemarin Sabtu. Tentang tren layanan cloud yang saya baca di GigaOm. Jika anda telah membaca url terkait GigaOm (When Is the Right Time to Launch Your Own Cloud?) maka anda akan tahu bahwa belakangan ini banyak pihak yang meluncurkan layanan berbasis cloud.

    Cloud computing bisa diasosiasikan dengan kepemilikan grid atau farm. Dari sini saja sudah terlihat bahwa biaya yang dibutuhkan untuk mensetup layanan seperti ini tidaklah murah. Tapi bukan berarti penyediaan layanan seperti ini benar-benar sangat sulit. Setiap pihak yang punya computing resource yang cukup besar bisa menyediakan layanan tersebut. Contoh nyatanya adalah Amazon. Amazon selain menfokuskan diri pada penjualan buku (dan video, dll) ternyata berani mencoba niche market yang sama sekali belum disentuh banyak orang. Jika yang lumrah kita temui biasanya adalah virtual private server dan dedicated server mahal, maka Amazon benar-benar bisa membuat terobosan baru dengan penyediaan virtual server (Elastic Compute Cloud), storage server (Simple Storage Service) dengan harga yang tidak fixed berdasar waktu. Bayangkan saja, siapa yang berani memberikan tarif sewa server berdasarkan jam pemakaian? Dan tarif storage berdasar kapasitas?

    Amazon tidak memilih jalan memberdayakan ad seperti halnya perusahaan-perusahaan lain. Ini adalah langka yang cerdas. Amazon benar-benar tahu apa kekuatannya. Amazon mempunyai hardware berlebih yang memang disetup untuk mendukung layanan utamanya yakni berjualan buku, dll. Kebutuhan hardware ini, semakin ke depan tida akan bertambah sedikit akan tetapi justru akan bertambah banyak. Pilihan menyewakan resource computing adalah komplemen usaha yang tidak memerlukan banyak modal karena sebenarnya sebagian besar permodalan dan maintenance telah dicakup secara otomatis di dalam fokus usaha utamanya.

    Dari situ saya berpikir, kenapa di Indonesia tidak ada yang melirik pasar basah ini. Cloud computing adalah masa depan pasti! The big boys are doing it. Ini adalah opsi paling masuk akal dibandingkan dengan bersikukuh meneruskan model bisnis jadul dengan skema pricing yang tak masuk akal.

    Oke, lalu siapa saja yang kira-kira berpotensi untuk bisa bermain dalam pasar ini? Tentu saja pihak-pihak yang mempunyai computing resource besar. Paling mudah, kita lihat saja siapa yang mempunyai page hit tinggi dan tetap bisa menyediakan response time yang bagus. Jika di luar negeri ada Slashdot effect, di Indonesia kita punya detik effect. Setiap orang pasti tak susah untuk menebak bahwa detik.com punya potensi besar untuk bermain di cloud computing services. Blogdetik adalah saya satu bukti kekuatannya. Blogdetik tentunya tidak bisa langsung di-serve dengan kekuatan dari detik.com saja. Saya cukup yakin pasti ada investasi tambahan untuk blogdetik. Upaya melakukan scaling secara horizontal tentu ada batasnya. Mau tak mau, walau mas Andry sudah mengeksploitasi nginx habis-habisan, hardware tetap akan jadi limit pasti di masa depan.Pada suatu saat pasti akan ditemui titik batas dimana horizontal scaling tidak lagi efektif tanpa disertai occasional vertical scaling.

    Lalu, jika hanya pemain besar saja yang bisa turut serta, apa menariknya bagi kita-kita pemain kelas teri seperti saya (dan mungkin Anda)? Hehehe, walau cloud service sudah bisa dianggap niche market, sebenarnya masih ada banyak niche di dalam niche cloud service ini. Tidak ada seorang pun yang akan bisa memenuhi segala jenis kebutuhan cloud computing. Ini adalah peluang untuk merambah pasar spesialisasi cloud service. Contohnya ya SCC yang saya tulis kemarin. Contoh yang lebih mudah lagi adalah webhosting. Saya belum menemukan webhosting yang pelayanannya mencakup scaling. Yang ada adalah opsi upgrade yang kadang tidak masuk akal dalam hitungan budget para pemain baru. Layanan webhosting yang ready-to-scale pasti akan jadi pembeda tersendiri. Dengan meniru skema pricing progressif yang dipakai Amazon, webhosting pun bisa merendahkan barrier of entry. Rendahnya barrier of entry akan mengundang banyak konsumen baru yang mungkin bisa menjadi konsumen tetap. Siapa tahu salah satu konsumen ini bsia jadi pemain besar yang sekaligus menjadi your permanent cash-cow? ;)

    So, kapan cloud computing jadi tren di Indonesia? Be the first!

    Photo by Stuck in Customs

     
    • stwn 6:56 pm on 5/12/2008 Permalink

      kita pernah bicara soal ini? :P terima kasih semakin memberikan informasi yang lebih lengkap

      teruslah menulis dan menggapai mimpimu ton, aku mendukungmu *ding*

    • Akhmad Fathonih 8:32 am on 5/13/2008 Permalink

      Lupa-lupa ingat aku. Tapi dulu aku memang pernah ngobrol soal Social Compile Cloud (aku link di artikel di atas). Iya, sekarang idenya sudah mulai tambah komplit. Mungkin tinggal menuliskan secara lebih sistematis unutk melihat kembali luabang-lubangnya. Setelah itu mung bsia dimulai menulis execution plan.

      Hehehe, sok-sokan nih saya :D

    • stwn 10:49 am on 5/13/2008 Permalink

      hehe bagus, kita memang pernah ngobrol soal ini dan ingin mencoba dengan satu mesin punyaku dan punyamu tapi terkendala permasalahan aksesnya

      aku punya ide yang mirip dan beririsan denganmu, ingat build-service? yang baru dan akan dikerjakan adalah renderfarm. semua hal bisa dilakukan!

      sebenarnya kalau dilihat sekarang adalah masalah integrasi. tinggal bagaimana kita memaketkan teknologi-teknologi yang ada menjadi paket solusi dan menarik, penambahan “bumbu” diperlukan sebagai “lem” antar komponen teknologi ini

      insya Allah aku akan menulis sedikit curhatku di blog, tentu saja sesuai gayaku :D

    • Akhmad Fathonih 8:39 am on 5/14/2008 Permalink

      saya setuju wan, sepertinya inovasi integrasi dan packaging adalah salah satu hal tercepat untuk bisa membaut produk baru :)

      Saya tunggu tulisannya ya :)

    • sandal 7:52 am on 5/21/2008 Permalink

      Setahu saya, LIPI sudah mulai hal ini dengan menyediakan cluster yang bisa dipakai oleh publik.

      Infonya ada di http://cluster.lipi.go.id/

      Eh maaf, clud computing sama dengan grid atau cluster ga ya? :D

    • Akhmad Fathonih 11:30 am on 5/22/2008 Permalink

      cloud computing dengan grid atau cluster sepertinya tidak jauh beda, dalam hal infrastruktur. Sama-sama menggunakan banyak mesin untuk mengerjakan suatu task, dimana proses penyelesaiannya didistribusikan di antara mesin-mesin yang ada.

      saya belum pernah mencicipi grid sama sekali. Dulu sempat lihat grid yang di UI (via web) tapi tidak sempat memakai karena tidak tahu bagaimana saya bisa meresolve dependensi librari yang tidak tersedia di grid-nya. Dalam hal accessibilty, user interfacenya belum sip. Bikin bingung kecuali sudah mencoba berkali-kali (mungkin) :D

      CMIIW *summmon fajri, jefri, dll*

    • monsterikan 3:23 pm on 7/16/2008 Permalink

      menarik banget. gue lagi godok tema ini buat jadi lapsus. ntar tunggu disetujuin apa gak.

    • _subhan_ 7:38 am on 2/16/2009 Permalink

      saya rasa clouds cmputing (CC) belum dibersinar atau malah belum diberlakukan di Indonesia, ya_ memang karena biaya tarif Internet di INDONESIA yang masih mahal kalau d banding negara lain.
      INDONESIA gitu loch (:D)
      jhaha….

      tp msh cinta dgn negeri sendiri

      salam kenal

c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
shift + esc
cancel