Navinot: We are open for beta!

Image Hosted by ImageShack.us

So after a month of warming up using the One Post Per Day campaign, and after two weeks of hardwork for the theme, we finally launch this site. Please, give a warm applause to: Navinot, IT knowledge to the power of two!

We, Ivan (of MangoAddict.com) and I, have been waiting for this site since July. I felt the click, he felt the click, and that’s it. Navinot was born. Navinot, for me would be a skill power up site. It requires a new standard for me to meet. It will be a lot of learning along the future.

But what important is, there are things for you. It’s not all about Ivan and me of course. There’s so much more for you, my beloved friends and readers. Imagine Navinot as a TC, RWW, Mashable or GigaOm in Indonesian. Navinot will try to present you applicable knowledge, news, interviews and so much more related to the fun world and neverending story of Internet. That way, hopefully we can be more a benefit and a close friend for you.

Check out the release note and start subscribing the RSS. We are gonna fill up the post pipe baby!

Mempertanyakan Nasionalisme

Apa namanya jika saya berulang-ulang mengutarakan:”Kenapa selalu saja lebih ribut dengan perayaan dan fokus ke pemasangan bendera dan lomba-lomba?” Apa namanya jika saat 17 Agustus saya makan soto kudus dengan nyamannya mengenakan baju merah menyala bertuliskan ndp08 (perayaan hari nasional  Singapura 2008)? Apa namanya jika saya sebal melihat acara gosip yang berpanas-panas dengan baju pejuang dan memaksa artis untuk bernyanyi lagu kebangsaan? Apa namanya jika tiba-tiba saya bertanya apa nasionalisme? Apakah nasionalisme itu berarti seseorang menjadi haram untuk berganti kewarganegaraan karena bertahan hidup dan mengejar nilai-nilai yang secara subjektif lebih baik?

Mungkin karena saya tak suka melihat film perjuangan sehingga tak bisa membayangkan seberapa kolosal darah yang tertumpah untuk menegakkan selembar kain dua warna itu. Mungkin karena saya menganggap film perjuangan itu terlalu menyedihkan dan tak cocok dengan nyali saya yang sudah ciut? Atau mungkin karena deretan film bulan lalu jauh lebih meriah dan menarik untuk disimak?

Mungkin karena kaos oblong Hang Ten itu cocok untuk temperatur pagi ini yang memanas. Atau itu tanda saya kurang tahu caranya berterimakasih dan meresapi nikmatnya kemerdekaan.

Mungkin karena saya jemu dengan acara gosip. Mungkin saya tak tahan lagi dengan apapun itu cekikik para artis yang merayakan atau mengeksploitasi 17 agustus. Mungkin karena saya takut melihat para artis yang tak hapal lagu kebangsaan. Mungkin karena saya juga takut karena tidak hapal lagu kebangsaan.

Mungkin karena saya setengah mati berusaha mencari justifikasi dan legitimasi atas pilihan-pilihan saya, baik kemarin, saat ini atau di masa depan. Mungkin saya sedang melarikan diri dari realita atau apa yang saya persepsikan sebagai realita.

Mungkin saya salah sangka. Mungkin tak ada sama sekali kaitannya dengan survival, apalagi nasionalisme. Atau sesederhana saya hanya berusaha mempersulit hidup yang sebenarnya tak susah. Mungkin ini sekedar pilihan dan kosekuensi atas pilihan. Mungkin pertanyaan ini adalah ujian.

Photo by M3R

Bring It On Beijing

Pembukaan Olimpik semalam benar-benar membuat saya ternganga. Firework tidak hanya di stadion sarang burung, tapi juga tersebar di seluruh kota, ie: the giant step. Pemakaian human labour di acara ceremonial tersebut juga sangat memukau. Dengan masa latihan selama 10 bulan, atraksi sinkronisasi beratus-ratus manusia pun dipastikan berhasil menoreh sejarah.
Tapi itu belum mencakup semua hal yang mengagumkan. Isu kontroversial tentang pemakaian sumber daya alam akan saya lewati terlebih dahulu. Saya ingin bercakap tentang usaha Beijing dalam rangka mengubah perilaku sosial warganya.
Entah berapa jumlah dan yang dihabiskan untuk melakukan proses ini. Berbagai macam kampanye dilakukan, baik oleh aparat pemerintahan atau melalui koordinasi sukarelawan. Menakjubkan melihat usaha ini berhasil mengubah indeks perilaku warga Beijing dan bahkan mempengaruhi perilaku warga di kota-kota lain.

Beberapa perilaku yang diubah adalah budaya meludah sebarangan di jalan, budaya tidak mengantri, merokok di tempat umum, dan perilaku mengemudi (terutama pada alat transportasi umum seperti bus dan taksi). Berbagai macam booklet, spanduk dan billboard dibuat unutk mengingatkan warga supaya mengubah perilaku mereka karena kali ini dunia akan benar-benar melihat dekat. Sebagai orang timur, tampaknya budaya malu masih dianut sehingga reaksi dari warga pun cukup positif. Ini bisa dilihat dengan ada banyaknya sukarelawan yang turut berpartisipasi dalam program kampanye ini.

Khusus terkait budaya antri, sebelumnya keadaan di Beijing ini sama dengna apa yang bsia kita lihat di Indonesia. Tempat perhentian bus diceritakan selalu ramai dan tak teratur sehingga sopir pun harus berhati-hati jika hendak berhenti. Setelah kampanye berjalan, dari 10 menit yang diperlukan untuk naik bus kini hanya diperlukan 3 menit saja karena adanya antrian yang tertib. Seorang professor di Universitas Remnin menjelaskan budaya tidak antri ada kaitannya dengan pembangunan di China yang melaju sangat cepat yang sepertinya membuat orang-orang takut tertinggal di belakang, sehingga akhirnya memunculkan fenomena kebiasaan memotong antrian.
Apakah pernyataan tersebut juga berlaku di Indonesia?

Dari pengalaman pribadi, di bulan-bulan awal di Jakarta saya masih taat dengan mengantri dengan tertib di busway. Berdiri di belakang pintu dan tidak memotong dari samping baris di samping pintu adalah bentuk antrian sebenarnya. Setelah beberapa lama waktu berlalu saya pun bisa berkata pada istri saya: “Ngapain ngantri di situ (lurus pintu), sini aja lebih cepet (dari samping pintu)”. Kenapa hal seperti tersebut terjadi? Survival instinct. Semua orang di halte adalah predator, saya juga termasuk predator, dan mangsanya adalah bus Transjakarta yang populasinya cukup langka dan keberadaannya tidak bisa ditebak berdasar musim ataupun tanda-tanda alam lain — termasuk jam. Predator must prey or die. Dan saya pun berani berdesakan atau memotong antrian dari samping pintu. Oh tidak, saya belum sampai tahap naik dari pintu penurunan penumpang walau banak orang tak hamil atau tak membawa anak kecil yang naik dari sana. Tragisnya, pernah saya melihat ibu dengan anak kecil yang ditolak naik dari tempat spesial tersebut. Ya, saya juga bingung dengan aturan yang seenak pusar penerapannya.

Mungkin ada baiknya Indonesia mengajukan diri menjadi tuan rumah olimpiade selanjutnya. Tapi mungkin harus bisa menabung dulu, 40 billion dolar, seperti China. Sepertinya bisa diawali dengan mengumpulkan uang hasil salam tempel pejabat dan eksekutif negara.

Photo by Theo W L Jones