Updates from May, 2008 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Akhmad Fathonih 9:21 am on 5/25/2008 Permalink | Reply
    Tags: e-commerce, online payment gateway   

    Online Payment Gateway, who can serve it? 

    Siapa saja pemain online payment gateway di Indonesia? Saya tak tahu banyak, saya hampir tak pernah mendengar. Ini berarti mungkin memang tidak banyak pemain di niche ini. Kenapa demikian? Kenapa tidak semua orang bisa meniru ’kesuksesan’ Paypal?

    Why it’s hard to start?

    Trust. “Siapa yang akan memegang uang saya? Bagaimana saya bisa yakin uang saya tidak akan dibawa lari?” adalah pertanyaan sering kita lontarkan. Dalam hal ini, beberapa pihak yang bisa dipercaya sepertinya hanya bank dan telco/provider saja.

    e-commerce culture. Seberapa anda sering melakukan transaksi finansial via internet? Sepertinya masih banyak orang Indonesia yang belum berani untuk melakukan transaksi online. Tidak banyak orang yang melakukan transaski via internet, akan tetapi lain ceritanya dengan membeli ringback tone, wallpaper, games, dsb. Jadi? Don’t you worry, we’re getting there ;)

    Online currency. Saya memang belum pernah mengadakan survey, akan tetapi saya masih punya dugaan kuat bahwa masyarakat belum bisa percaya pada transaksi yang tidak melibatkan interaksi face-to-face atau privat. Tidak, ini tidak overlap dengan poin #2, yang kita bicarakan di sini adalah sarana/prasana yang juga turut menyumbang pada kelanggengan e-commerce culture si poin #2. Sampai saat ini, sepertinya yang dipercaya oleh masyarakat umum (bukan early adopters) adalah transaksi online dengan pulsa dan transfer uang lewat bank. Bahkan, mungkin, hanya pulsa saja yang bisa kita anggap sebagai online currency. Saya ragu apakah kita bisa memasukkan transfer uang via bank sebagai bagian dari online currency. Kenapa? Karena dalam hal transfer uang, pembeli tidak melaksanakannya secara langsung dengan penjual jasa akan tetapi harus berpindah media dan penjual akhirnya harus melakukan validasi dan sinkronisasi manual dengan rekening bank tersebut. Bagaimana dengan kartu kredit? Saya tidak punya data untuk hal ini, akan tetapi saya tak pernah menemui layanan lokal yang mendukung penggunaan kartu kredit.

    Jadi, siapa yang mampu menyediakan online payment? Sepertinya baru terbatas pada pihak-pihak yang bisa menggandeng bank dan telco saja.

    Link-link terkait (di dapat setelah draft blog selesai dibuat):

    Photo by ntr23

     
    • Aldiantoro Nugroho 11:09 am on 5/25/2008 Permalink

      kalo Gudang Voucher masuk gak?
      err … kayaknya cuma online merchant aja yah? ^^;

      *masih belum terlalu paham*

    • Akhmad Fathonih 12:26 pm on 5/25/2008 Permalink

      Klo gv menyediakan voucher yg bs dpakai dimana-mana mungkin baru bs kt sbt payment gateway. Sayangnya kan dia cm jd perantara vendor voucher..

    • Ivan 1:37 am on 5/28/2008 Permalink

      Yah … sabar donk, Kartu Kredit aja baru rame akhir2 ini aja. Itupun udah banyak kasus kebobolan.

      Sabar yah, ada yg lagi bikin tuh. :)

      Ivans last blog post..6 Hal Yang Patut Diketahui Sebelum Memulai Blog

    • tukang kurir 2:04 am on 6/18/2008 Permalink

      Jangan salah loh… GudangVoucher kan menerima merchant e-commerce dan generate voucher sendiri untuk e-commerce.

    • joko 2:21 pm on 7/28/2008 Permalink

      rasa2nya http://www.indo-gold.com termasuk salah satu kalo gak satu2nya di indonesia.

      coba aja tengok

  • Akhmad Fathonih 9:32 am on 3/10/2008 Permalink | Reply  

    Freeconomics 

    Setelah kita menjadi haus akibat The Long Tail, kini Chris Anderson telah mempersiapkan another exciting reading material. Sebenarnya tidak ada yang baru, hanya saja banyak di antara kita yang mungkin belum sadar atau malah sama sekali tidak melihat. Ilmu ekonomi yang selama ini kita pelajari sebagai ilmu sosial yang membahas pilihan  dalam kelangkaan, kini tak lagi memegang definisi yang sama persis.

    Ah saya rasa, saya telah gagal untuk membuat paragraf yang menarik bagi Anda. begini saja, mungkin bisa saya ringkas jadi: model bisnis gratis, karena ukuran implementasi yang massive dan common, kini menjadi sistem ekonomi baru. Chris Anderson menjabarkan beberapa pola Freeconomics, salah satunya adalah yang mungkin paling lazim kita temui adalah: cross subsidies (subsidi silang). Produk-produk yang digratiskan disubsidi oleh produk lain yang berbayar.
    Sebaiknya Anda baca sendiri artikelnya, plus juga nantikan bukunya (berjudul: FREE) terbit di 2009 nanti. Uh, saya tak sabar untuk membaca ulang artikel ini.

    PS:
    Dalam artikel ini Chris Anderson tidak terlalu banyak menyinggung tentang Open Source. Mungkin fenomena open source dan ekonomi gratis bisa kita baca lebih lanjut di bukunya tahun depan. I’m so excited!

     
  • Akhmad Fathonih 12:13 am on 1/27/2008 Permalink | Reply  

    Piracy: artist, consumer, and label company 

    Today I hear alot about piracy word. Since morning ’til evening. The most recent one was from extravaganza program. Having read halfway thru freakonomics makes me think: what does really lay betwen the artist, the consumer, and the label company?
    Yes, there are three parties involved here. Not only artist and consumer, like what some of us have been thought, but also the label company. My thumb is numb already, so let’s go to my redline. What I’ve been thinking is that the current music industry business model is no longer fit the market. On indonesian case, specifically, buying capacity is terribly low while OTOH people seem to happily welcome the currently growing options of music genres (boy bands, trios, solos, singing actor/actress, and etc).
    The artists keep pushing their limit of creativity, while also blindly accept their label old fashioned way of doing business, ie: furiously trying to sell cds and dvds.
    Cast off your moral calculator if you still have it attached atm. Consumer incentive includes exchanging money, not exceeding, to a value they are pursuing. Since pirated copy in general does not differ much from the original one except packaging and phsycological matters, many incapable buyers will choose the pirated one.
    I am not endorsing piracy here. My red line is if you want to survive in this business you have two options. If you have the hand of God, then change your market buying capacity. Or else, goodluck on looking other viable business model to use. Take Radiohead as example.

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
shift + esc
cancel