Lebih jauh dengan (bisnis dan) SOLR

Kenapa harus SOLR, tidak cukupkah google site search/google coop?

Google memang mengindeks dengan handal,akan tetapi Google sepertinya tak akan bisa memberikan banyak interpretasi semantic. Di sinilah implementasi SOLR akan banyak membantu kita. Model searching yang dicontohkan Google adalah evolusi dari search jaman dulu. Walau model ini bekerja dengan baik, kebutuhan search terus berkembang, pada akhirnya pengalaman yang didapat dari aktivitas pencarian lewat Google tidak akan mampu mengakomodasi seluruh permintaan konsumen. Konsumen membutuhkan pengalaman pencarian yang lebih berkesan. Vertical search adalah salah satu jawaban dan harapan. Vertical search hanya bisa dibangun jika semua data dan relasi antar data tersebut tersedia. Dan tentu saja hanya yang pemilik data itu sendiri yang tahu dan mempunyai informasi yang telah disebutkan sebelumnya. Ya, berarti semua orang terkualifikasi untuk mendayagunakan SOLR. Dan sang pemilik data itu sendirilah memang pihak yang paling tepat untuk mengendalikan pengalaman aktivitas pencarian.

Contoh kasus. Mislakan berikut ini adalah data yang kita punyai:

SOLR for Dummies
Pennington, Havoc
7888XXXXX
USD $27

Bisakah google menjawab pertanyaan “Buku apa yang ditulis oleh Havoc Pennington?”, “Buku-buku apa saja yang harganya di bawah $30?”. Google tak akan mampu menjawab satu pun dari pertanyaan tersebut kecuali Google tahu semantik/makna data dalam teks tersebut. Sebaliknya, dengan SOLR kita bisa menjawab pertanyaan di atas. Karena kita tahu bahwa “SOLR for Dummies” adalah judul buku, maka kita bisa mengindeks data ini di bawah field book_title dalam SOLR. Kemudian “Pennington, Havoc” bisa diindeks di bawah “author” dan seterusnya. Maka kita pun bisa mencari data yang kita inginkan dengan lebih akurat.

Siapakah klien potensial kita?

Mengulang kembali apa yang sempat kita singgung sebelumnya. Berikut ini adalah beberapa jenis klien potensial.

  1. Blogs. Data dalam blog bisa dipastikan jauh dari terstruktur. Ini adalah klien potensial yang tersulit. Potensial karena tumpukan datanya sangat banyak dan sepertinya belum ada yang sanggup mengolahnya menjadi data berharga. Hmmm, sebentar, mari kita berimajinasi. Ada tidak kemungkinan: ”cari ulasan tentang SOLR yang ditulis oleh Akhmad Fathonih”. Dengan struktur umum kontent blog berupa title, excerpt, permalink, full-content, category, dan tags ternyata kita sudah bsia memberikan value lebih. Dengan semakin meningkatnya permintaan dan kepercayaan pengguna internet akan peer review dan citizen jurnalism, query yang baru saja saya sebut pasti akan muncul.
  2. e-commerce sites. Segala situs yang bertema amazon, e-bay atau craiglist akan lebih mudah diindeks karena data telah distrukturkan dan mempunyai relasi antar data yang sudah jelas.
  3. Semua pemilik data yang menginginkan datanya lebih discoverable bagi penggunanya

Apa yang harus kita bootstrap lebih dulu?

Selain infrastruktur (cores, storage, bandwidth, etc) di mana kita akan mendeploy SOLR, plugins (untuk CMS dan other data management system) adalah salah satu hal kritikal. Faktor ini akan turut menentukan rendahnya barrier of entry pada konsumen. Semakin mudah konsumer bisa memanfaatkan layanan kita maka besar peluang kita untuk mendapatkan konsumen, data (untuk di-mining is possible) dan peluang-peluang lain.

What do you say?

While I will think and write more on this subject, I’m all free for any discussion; whether you are rushing to execute this plan before anybody else, or you want a simply routine-breaking chit-chat.

Photo:
Source
Flickr
Author
Cayusa
License
  • http://www.mangoaddict.com Ivan

    Kalo query nya kayak begitu ..lebih cocok dibilang “natural language” deh.

    Tentang potensial:

    1. Blog untuk sementara sudah cukup dengan category and tags.

    2. E-Commerce yang sekarang sudah cukup semantic, kalo anda ke Ebay, atau amazon, khan systemnya udah bis atau kalo Nokia atau Canon adalah brand names. Mungkin harus lebih detail kali.

    3. no idea …

    Saya rasa kuncinya ada di “computing power” .. semantic sites pada umumnya punya database tersendiri, semacam penterjemah kata2 kunci. Jadi butuh extra computing power buat mengartikan natural language tersebut.

    Hal kedua, semakin data itu terstruktur, semakin gampang nemuinnya.

    So, kapan bikin Cloud nih? emang tau pake software server apaan?

    Ivans last blog post..Free vs. Paid Service

  • http://neofreko.com Akhmad Fathonih

    Waduh, sepertinya contaoh sya rada menyesatkan. Maksud saya sebenanrya tidak ke natural languagenya. That’s beyond my current knowledge. Maksud saya adalah arti querynya, mungkin query aslinya bisa berwujud seperti: “author:havoc price:[0 TO 37]“. Seperti itu maksudnya :)

    Ide ini berangkat dari kepemilikan akan data, jadi kita tidak akan membuat crawler though it’s an interesting idea as well. Karena kita tidak akan melakukan crawlign maka kita juga tidak perlu menebak semantik tiap kata dalam suatu konten.

    Hmm, mungkin ide ini bisa dikatakan sebagai transformasi database menjadi lebih discoverable.

    Software yang akan dipakai di sini adalah SOLR. Sedang cloudnya sendiri bisa pakai “cloud”-nya Tomcat atau mungkin Hadoop/Nutch. Untuk yang Hadoop/Nutch ini saya belum tahu banyak :) . I’ll write about it when I have known it better.

    Rupanya saya harus belajar lebih banyak ilmu komunikasi supaya ide saya tersampaikan seperti apa yang saya kehendaki :D .