Tulisan berikut ini adalah pemenuhan janji yang saya buat kemarin Sabtu. Tentang tren layanan cloud yang saya baca di GigaOm. Jika anda telah membaca url terkait GigaOm (When Is the Right Time to Launch Your Own Cloud?) maka anda akan tahu bahwa belakangan ini banyak pihak yang meluncurkan layanan berbasis cloud.
Cloud computing bisa diasosiasikan dengan kepemilikan grid atau farm. Dari sini saja sudah terlihat bahwa biaya yang dibutuhkan untuk mensetup layanan seperti ini tidaklah murah. Tapi bukan berarti penyediaan layanan seperti ini benar-benar sangat sulit. Setiap pihak yang punya computing resource yang cukup besar bisa menyediakan layanan tersebut. Contoh nyatanya adalah Amazon. Amazon selain menfokuskan diri pada penjualan buku (dan video, dll) ternyata berani mencoba niche market yang sama sekali belum disentuh banyak orang. Jika yang lumrah kita temui biasanya adalah virtual private server dan dedicated server mahal, maka Amazon benar-benar bisa membuat terobosan baru dengan penyediaan virtual server (Elastic Compute Cloud), storage server (Simple Storage Service) dengan harga yang tidak fixed berdasar waktu. Bayangkan saja, siapa yang berani memberikan tarif sewa server berdasarkan jam pemakaian? Dan tarif storage berdasar kapasitas?
Amazon tidak memilih jalan memberdayakan ad seperti halnya perusahaan-perusahaan lain. Ini adalah langka yang cerdas. Amazon benar-benar tahu apa kekuatannya. Amazon mempunyai hardware berlebih yang memang disetup untuk mendukung layanan utamanya yakni berjualan buku, dll. Kebutuhan hardware ini, semakin ke depan tida akan bertambah sedikit akan tetapi justru akan bertambah banyak. Pilihan menyewakan resource computing adalah komplemen usaha yang tidak memerlukan banyak modal karena sebenarnya sebagian besar permodalan dan maintenance telah dicakup secara otomatis di dalam fokus usaha utamanya.
Dari situ saya berpikir, kenapa di Indonesia tidak ada yang melirik pasar basah ini. Cloud computing adalah masa depan pasti! The big boys are doing it. Ini adalah opsi paling masuk akal dibandingkan dengan bersikukuh meneruskan model bisnis jadul dengan skema pricing yang tak masuk akal.
Oke, lalu siapa saja yang kira-kira berpotensi untuk bisa bermain dalam pasar ini? Tentu saja pihak-pihak yang mempunyai computing resource besar. Paling mudah, kita lihat saja siapa yang mempunyai page hit tinggi dan tetap bisa menyediakan response time yang bagus. Jika di luar negeri ada Slashdot effect, di Indonesia kita punya detik effect. Setiap orang pasti tak susah untuk menebak bahwa detik.com punya potensi besar untuk bermain di cloud computing services. Blogdetik adalah saya satu bukti kekuatannya. Blogdetik tentunya tidak bisa langsung di-serve dengan kekuatan dari detik.com saja. Saya cukup yakin pasti ada investasi tambahan untuk blogdetik. Upaya melakukan scaling secara horizontal tentu ada batasnya. Mau tak mau, walau mas Andry sudah mengeksploitasi nginx habis-habisan, hardware tetap akan jadi limit pasti di masa depan.Pada suatu saat pasti akan ditemui titik batas dimana horizontal scaling tidak lagi efektif tanpa disertai occasional vertical scaling.
Lalu, jika hanya pemain besar saja yang bisa turut serta, apa menariknya bagi kita-kita pemain kelas teri seperti saya (dan mungkin Anda)? Hehehe, walau cloud service sudah bisa dianggap niche market, sebenarnya masih ada banyak niche di dalam niche cloud service ini. Tidak ada seorang pun yang akan bisa memenuhi segala jenis kebutuhan cloud computing. Ini adalah peluang untuk merambah pasar spesialisasi cloud service. Contohnya ya SCC yang saya tulis kemarin. Contoh yang lebih mudah lagi adalah webhosting. Saya belum menemukan webhosting yang pelayanannya mencakup scaling. Yang ada adalah opsi upgrade yang kadang tidak masuk akal dalam hitungan budget para pemain baru. Layanan webhosting yang ready-to-scale pasti akan jadi pembeda tersendiri. Dengan meniru skema pricing progressif yang dipakai Amazon, webhosting pun bisa merendahkan barrier of entry. Rendahnya barrier of entry akan mengundang banyak konsumen baru yang mungkin bisa menjadi konsumen tetap. Siapa tahu salah satu konsumen ini bsia jadi pemain besar yang sekaligus menjadi your permanent cash-cow?
So, kapan cloud computing jadi tren di Indonesia? Be the first!
Photo by Stuck in Customs
