Ideas: I can haz Twitter replaced by IRC plz?

May 16, 2008 · Filed Under Ideas, Web 2.0 · 2 Comments 

This is yet another bath time ideas. How can we replace Twitter with something that is not rocket science? I think we can simulate Twitter using IRC. And these are how:

  • Each user will be given their own room. So, if I’m neofreko then I’ll have #neofreko
  • Twitter bot join every user room
  • Who following who will be kept in a dedicated database
  • Each time user post a message in his (or any) room, twitter bot will relay this message to other user room based on the who-following-who database
  • User can leave their room so they may have been replaced by a bot as well. We may want to keep an alias table for user-bot and real user
  • This user-bot will “provide” web-based UI so user is not required to join the room but, still, can access their room from external world. Accessing here may mean: views archive, views replies, and sends messages
  • Twitter bot can keep all recent messages to build the public timeline

So, now we have

  • Other can see my twitter page by visiting my room, or accessing the web-based UI.
  • At any given time there’ll be at least two user instance in any given room, ie: user-bot and twitter-bot
  • No, the room won’t be available on public. Instead it’s only available in twitter LAN(d). Thus we can prevent evil bot from joining.

And then we must consider

  • Netsplit issue. IRC wizard please confirm this: will this problem gone is all user coming from localhost?
  • Security. Whether this IRC is vulnerable

Now, who want to fund me?! ;)

Kapan cloud computing jadi tren di Indonesia?

May 12, 2008 · Filed Under Ideas · 4 Comments 

Tulisan berikut ini adalah pemenuhan janji yang saya buat kemarin Sabtu. Tentang tren layanan cloud yang saya baca di GigaOm. Jika anda telah membaca url terkait GigaOm (When Is the Right Time to Launch Your Own Cloud?) maka anda akan tahu bahwa belakangan ini banyak pihak yang meluncurkan layanan berbasis cloud.

Cloud computing bisa diasosiasikan dengan kepemilikan grid atau farm. Dari sini saja sudah terlihat bahwa biaya yang dibutuhkan untuk mensetup layanan seperti ini tidaklah murah. Tapi bukan berarti penyediaan layanan seperti ini benar-benar sangat sulit. Setiap pihak yang punya computing resource yang cukup besar bisa menyediakan layanan tersebut. Contoh nyatanya adalah Amazon. Amazon selain menfokuskan diri pada penjualan buku (dan video, dll) ternyata berani mencoba niche market yang sama sekali belum disentuh banyak orang. Jika yang lumrah kita temui biasanya adalah virtual private server dan dedicated server mahal, maka Amazon benar-benar bisa membuat terobosan baru dengan penyediaan virtual server (Elastic Compute Cloud), storage server (Simple Storage Service) dengan harga yang tidak fixed berdasar waktu. Bayangkan saja, siapa yang berani memberikan tarif sewa server berdasarkan jam pemakaian? Dan tarif storage berdasar kapasitas?

Amazon tidak memilih jalan memberdayakan ad seperti halnya perusahaan-perusahaan lain. Ini adalah langka yang cerdas. Amazon benar-benar tahu apa kekuatannya. Amazon mempunyai hardware berlebih yang memang disetup untuk mendukung layanan utamanya yakni berjualan buku, dll. Kebutuhan hardware ini, semakin ke depan tida akan bertambah sedikit akan tetapi justru akan bertambah banyak. Pilihan menyewakan resource computing adalah komplemen usaha yang tidak memerlukan banyak modal karena sebenarnya sebagian besar permodalan dan maintenance telah dicakup secara otomatis di dalam fokus usaha utamanya.

Dari situ saya berpikir, kenapa di Indonesia tidak ada yang melirik pasar basah ini. Cloud computing adalah masa depan pasti! The big boys are doing it. Ini adalah opsi paling masuk akal dibandingkan dengan bersikukuh meneruskan model bisnis jadul dengan skema pricing yang tak masuk akal.

Oke, lalu siapa saja yang kira-kira berpotensi untuk bisa bermain dalam pasar ini? Tentu saja pihak-pihak yang mempunyai computing resource besar. Paling mudah, kita lihat saja siapa yang mempunyai page hit tinggi dan tetap bisa menyediakan response time yang bagus. Jika di luar negeri ada Slashdot effect, di Indonesia kita punya detik effect. Setiap orang pasti tak susah untuk menebak bahwa detik.com punya potensi besar untuk bermain di cloud computing services. Blogdetik adalah saya satu bukti kekuatannya. Blogdetik tentunya tidak bisa langsung di-serve dengan kekuatan dari detik.com saja. Saya cukup yakin pasti ada investasi tambahan untuk blogdetik. Upaya melakukan scaling secara horizontal tentu ada batasnya. Mau tak mau, walau mas Andry sudah mengeksploitasi nginx habis-habisan, hardware tetap akan jadi limit pasti di masa depan.Pada suatu saat pasti akan ditemui titik batas dimana horizontal scaling tidak lagi efektif tanpa disertai occasional vertical scaling.

Lalu, jika hanya pemain besar saja yang bisa turut serta, apa menariknya bagi kita-kita pemain kelas teri seperti saya (dan mungkin Anda)? Hehehe, walau cloud service sudah bisa dianggap niche market, sebenarnya masih ada banyak niche di dalam niche cloud service ini. Tidak ada seorang pun yang akan bisa memenuhi segala jenis kebutuhan cloud computing. Ini adalah peluang untuk merambah pasar spesialisasi cloud service. Contohnya ya SCC yang saya tulis kemarin. Contoh yang lebih mudah lagi adalah webhosting. Saya belum menemukan webhosting yang pelayanannya mencakup scaling. Yang ada adalah opsi upgrade yang kadang tidak masuk akal dalam hitungan budget para pemain baru. Layanan webhosting yang ready-to-scale pasti akan jadi pembeda tersendiri. Dengan meniru skema pricing progressif yang dipakai Amazon, webhosting pun bisa merendahkan barrier of entry. Rendahnya barrier of entry akan mengundang banyak konsumen baru yang mungkin bisa menjadi konsumen tetap. Siapa tahu salah satu konsumen ini bsia jadi pemain besar yang sekaligus menjadi your permanent cash-cow? ;)

So, kapan cloud computing jadi tren di Indonesia? Be the first!

Ideas: Social Compile Cloud (cont.)

May 10, 2008 · Filed Under Ideas · 3 Comments 

Hari ini sewaktu mandi, saya kembali terpikir mengenai ide saya beberapa waktu lalu. Yakni tentang Social Compile Cloud (selanjutnya akan saya singkat dengan SCC) dengan memberdayakan icecream dan hamachi. Ide yang minim umpan balik ini kembali datang setelah membaca GigaOm. Saya hampir putus asa dengan GigaOM karena beritanya terasa turun mutu. Padahal GigaOm ini adalah salah satu feed pertama yang mengawali penjelajahan saya atas Web 2.0. Hari ini GigaOm is back in my heart. Post-nya tentang tren layanan cloud menggelitik otak saya dan akhirnya ide SCC mendapat bahan baru!

Dalam ide saya yang lalu, yang terpikir oleh saya hanya hamachi (VPN) saja yang bisa dipakai untuk menjadi penghubung antara anggota SCC dalam jaringan internet. Sekarang, tiba-tiba saya terpikir XMPP. Ya, kenapa tidak. Waktu lalu, isu yang cukup mendasar yang belum saya temukan solusinya adalah masalah trust dan keamanan. Dengan VPN, memang setup SCC bisa jadi sangat mudah. Namun, karena semua anggota SCC terhubung langsung via VPN maka resource yang ada pada setiap anggota akan terekspose seluruhnya. Webserver, FTP, ssh, dan lain-lain akan terlihat gamblang oleh anggota yang lain. Hal ini tentunya akan menjadi penghambat dalam hal pengembangan jaringan sosial para anggota. Bagaimana saya bisa menambahkan friend jika saya beresiko mengalami penetrasi ilegal dalam jaringan?

Dengan XMPP, berarti yang terekspose adalah XMPP resource saja. Tidak yang lain. Dan kini setiap anggota tidak harus lagi membuat VPN meskipun VPN bisa tetap dipakai sebagai pilihan. VPN bisa menjadi pilihan advanced user sedang XMPP bisa menjadi pilihan user pemula atau user yang ingin mengembangkan network dengan jalan membuka diri secara aman.

Tapi tentu saja pilihan menggunakan protokol XMPP tidak berarti membuat segalanya menjadi lebih meudah. Dari sisi user memang akan tampak simpel, akan tetapi implementasi dari sisi developer menjadi lebih susah. Wajar saja, ini memang sudah formula paten. You can take one but you can’t have both :).

Implementasi SCC dengan XMPP memerlukan tambahan server yang akan berfungsi sebagai tracker layaknya trakcer dalam model bittorrent. Alih-alih mengekspose keberadaan icecream secara langsung, kini user akan mengekspose icecreamnya secara lebih secure lewat tracker. Instans icecream tidak akan terlihat langsung namun statusnya bisa dimonitor di tracker. Lebih jauh tracker ini juga bisa dijadikan media penyimpan informasi tambahan mengenai resource apa saja yang akan tersedia dalam icecream isntan milik suatu user. Misalnya, icecream saya akan ready untuk mengkompile KDE saja, sedang icecream milik stwn siap untuk mengkompile segala hal dalam konteks Kuliax.

Selain tracker, sudah pasti source code icecream juga perlu dipatch supaya berjalan dengan protokol XMPP atau mendayagunakan protokol XMPP. Iya, tidak harus menggunakan XMPP seutuhnya namun XMPP bsia dipakai sekedar untuk menjembatani aktivitas sosial antar anggota. Sementara itu proses compile-nya sendiri bisa memakai VPN secara implisit (seamless). Yang terbayang dalam benak saya, kita tinggal meng-install plugin tambahan untuk klien IM kita untuk menambahkan support SCC.

Bagaimana? Mudah-mudahan bisa lebih jelas konsepnya daripada yang kemarin. Mengenai business model memang belumada banyak tambahan. Tapi saya sudah lebih punya fokus. Seperti yang tertulis di atas, anggota SCC bisa menyediakan berbagai macam compile enviroment. Jadi user bisa juga memasang tarif untuk resource tertentu yang bisa dipakai orang lain. Misalnya memasang tarif untuk enviroment Sun Solaris atau Mac.

Menarik?

PS:

Sebenarnya saya masih punya draft mengenai tren layanan cloud. Akan tetapi, sepertinya akan saya tulis di lain kesempatan saja. Ini sudah pukul sembilan, tiga puluh menit lagi cakewalk mungkin sudah mau kukut-kukut :D

Ideas: Unleash your social app

May 6, 2008 · Filed Under Ideas · 2 Comments 

Recently Joyent has offered its Accelerator for free, if only you implements OpenSocial. Although it’s free for only 6 months, it is still a great opportunity to leverage your social onto new level. I know, many social app, especially developed by third world people (the underpaid) face a terrible nightmare of inability to scale. There are some, maybe, has a luxury of owning their own server. But for some (most) other, dedicated server or VPS is just beyond their budget (my best finding for VPS is Rp150000/month).

For those waiting for a free ride, this is your moment. Take Joyent offer, implements OpenSocial and determine within your free 6 months: Would a VPS or dedicated really worth an investment? ;) I heard Shindig is a great tool to start impelementing OpenSocial. Shindig is an Apache Incubator project. But not only Java, it’s also supporting PHP. Great isn’t it?

Further, I heard EC2 is quite cheap ($0.100/hour-instance). If you can really take off with your free 6 months at Joyent, instead of continuing on Joyent you can always consider EC2. There’s also scaling tool compatible to EC2 architecture called Scalr.

So, there are two ideas you can found here:

  • Host your app over Joyent or EC2. go international!
  • VPS is a wet market. Refine your business model, grab potential early adopters!

PS:
Joyent offers free service as well for Facebook App developer!