Potret kehidupan heterogen bangsa


harga mati

Originally uploaded by Framed Geek

Pengennya saya, Paman Tyo saja yang nulis gombalan tentang foto ini. Saya yakin beliau bakal bisa memberi banyak gelitikan pikiran daripada saya. Hehehe. Spanduk ini saya jumpai di jembatan penyeberangan di halte Angkasa. Bisa juga dijumpai di dekat perlintasan kereta stasiun Tebet.

Tanya kenapa? Mungkin memang ada sebagian manusia yang berpikir dia lebih baik daripada orang lain. Macam saya masih sempet pengen ikut carut marut dalam urusan gak jelas seperti ini. :p

PS:
Judulnya sengaja dibikin bombastis. Mulanya hanya “harga mati” saja.

Updated:

Judul diganti supaya tidak menimbulkan provokasi. permalink diganti supaya tidak muncul lagi di google ;)

  • http://fm.kakilangit.com firman

    ya elah ton, itu kan kerjaan orang-orang yang punya kunci surga :D

  • http://neofreko.com Akhmad Fathonih

    koreksi (berhubung wp saya sedang nyebelin):
    “Macam saya masih sempet pengen ikut carut marut dalam urusan gak jelas seperti ini. :p” harusnya “Macam saya yang masih sempet-sempetnya pengen ikut carut marut dalam urusan gak jelas seperti ini. :p”

    Dan harusnya ada link ke bloggombal.org

    @firman
    Hehehhe, gimana ya ..

  • http://stwn.ngeblog.net stwn

    saya sih lebih baik tidak banyak berkomentar tentang permasalahan yang ada, mending dipelajari saja kenapa orang seperti ini seperti itu dan jadikan masukan untuk kita pribadi minimal. kalau sudah ketemu “greng”-nya nanti kita bakal tahu :-)

  • http://sofieworld.blogspot.com sofie

    itu judulnya propaganda sekali dan bisa menimbulkan kisruh, tapi aku tau judul itu kamu ambil dari spanduk, jadi sapa yang patut disalahkan atas propaganda gak bertanggung jawab itu yang spanduk dan yang bikin spanduk, :p…semoga lebih banyak orang bijak di Indonesia untuk gak saling mneghancurkan satu sama lain, dan masih banyak solusi yang bisa dicapai daripada cuma pamer arogansi, siapa bener siapa salah, capeeee deee…

  • http://podel.blogspot.com podelz

    jadi inget perkara kontroversial yang sampe ketangan polda jogja dulu :|
    hii takutt….

  • http://topanreturns.blogspot.com Topan

    The history repeats.
    Semua agama ternyata memang akan melewati fase yang sama.

  • http://rafkirasyid.com Rafki RS

    Itulah akibatnya kalau orang sudah berfikiran seperti Tuhan. Kepercayaan yang dianut seolah paling benar. Sungguh orang-orang berfikiran picik menurut saya.

  • faisal

    The best thinks to pursue something is you must know where the leader will take us first, right?. The leader background is the most important think and we must be able to answer the question by ourselves,for instance, who is Ahmad Mirza Ghulam,is he a real prophet or pseudo prophet? and so on. I agree with this subject: Bubarkan Ahmadiyah Harga Mati.

  • HamDee

    Bukan berfikiran seperti Tuhan, tapi berfikiran seperti ‘pemikiran’ yang telah diberikan Tuhan…

    Kepercayaan yang dianut memang harus diyakini kebenarannya, dan harus benar2 diyakini bahwa kepercayaannya itulah yang paling benar…
    Bukan suatu kepercayaan atau agama, bila penganutnya sendiri tidak percaya penuh dengan kepercayaan atau agamanya tersebut.. Atau, bisa dibilang Plin-Plan.. ;p
    Apalagi seluruh petunjuk yang ada, sudah menguatkan kebenaran itu… Hanya orang2 yang JAIM dan sombong, yang tidak ingin mengakui kebenaran yang hakiki -padahal itu ada pada dirinya-…

    Itu bukan kepicikan menurut saya… Itu seperti sebuah sikap atas pendirian yang teguh…
    Hanya saja, ‘pengumbaran’ sikapnya itu yang perlu kita sikapi.., dan bukan menyikapi pemikirannya… :)

  • http://neofreko.com Akhmad Fathonih

    Masukan yang bagus dari bung Hamdee :) . Pengumbaran sikaplah yang harusnya jadi sorotan, begitu ya? Tapi pengumbaran pikiran ini juga berdasar pada (pola) pemikiran juga? Atau kita rancu antara pemikiran, keyakinan dan pendirian? :D

  • HamDee

    Makasih mas Ahmad, itu bukan apa2, cuma ingin sedikit menanggapi bung Rafki..

    Maaf mas Ahmad, mengoreksi tulisannya:
    “Tapi ‘pengumbaran pikiran’ ini juga berdasar pada (pola) pemikiran juga?”, mudah2an yg dimaksud adalah ‘pengumbaran sikap’..
    Analisa kecil saya mengenai pengumbaran sikap di atas, kalau tidak ada “syarah”nya yang mumpuni memang seperti rancu dan saya seperti sedang gemar melompat2… Hehe..

    Kemudian mengenai ‘sikap’ yang berdasar pada pola pemikiran, ini memang benar.. Tidak ada kerancuan antara pemikiran, keyakinan dan pendirian.. Kita aja yang kadang2 membuat itu menjadi ‘semakin rancu, karena ketidaksanggupan kita2 -termasuk saya- mempertemukan ketiganya..

    Saya ingin mengambil contoh dari teori ‘nas’ -sebagai pondasi dasar pemikiran kita- yang berlawanan, antara satu dengan yang lain.. Dalam hal ini, ‘nas qur’an’ dan ‘nas hadis’..
    1. Ayat 15 surat an-Nisa, mengatur masalah perempuan yang berzina, lantas jika perzinaan itu memang terjadi dan dibantu dengan kesaksian yang ada, Allah Swt. memberikan hukuman “al-imsaak hattaa al-maut”, atau dikurung sampai mati…
    Sampai di sini, apakah jika kita menghukum mereka dengan hukum Allah dikatakan sikap yang picik??
    2. Sebuah hadis -maaf saya lupa riwayatnya tapi ada di bab ‘hukum2 had’-, yang mengandung hukum yang lain atas perzinaan tadi.. Di situ, lebih terperinci pelaku zinanya, mencakup yang belum nikah atau ‘al-bikr’, dan yang sudah nikah atau ‘as-saib & al-muhson’.. Dan jelas, hukumnya juga berbeda..
    Sampai di sini, bagaimana sikap kita menghadapi permasalahan di atas, kenapa ada dua nas yang berbeda hukumnya pada satu masalah yang sama, yaitu ‘zina’?
    Berkat pemikiran para ulama salaf akhirnya lahirlah ‘jalan keluar’ dari kemelut di atas, dan salahsatu teorinya seperti pembatalan hukum yg pertama dengan adanya hukum yg kedua…
    Kesalahan ‘mengumbar sikap’ dari masalah -nas yang berlawanan atau ‘ta’aarud ad-daliilain’- inilah yang bisa dibilang ‘sikap yang salah’ dan perlu kita ‘sikapi’.., bukan pemikirannya.. Karena bisa2 kalau kita ‘menyikapi’ pemikirannya, ini akan berujung kepada ‘penyikapan’ pondasi dasar pola pemikiran kita…

    Nah, kita bisa ‘qiyas’kan masalah FPI dan Ahmadiyah ini kepada contoh di atas… Mas Ahmad pasti tau dong tentang hukum memberantas kemungkaran atau bisa dibilang jihad melawan orang yang merusak agama.. Ini saya kiyaskan dengan contoh nas yang pertama…
    Kemudian, ada gak nas yang berlawanan dengan perbuatan jihad tsb? Artinya, apakah ada cara lain memberantas kemungkaran tadi selain dengan ‘peperangan’.. Kayaknya ada.. Lantas, bagaimana sikap kita? Pemikiran untuk memerangi mereka jelas ndak salah toh, ‘wong Tuhan nyuruh’… Tapi ada cara yang laen yang lebih “bijaksana” -menurut sebahagian orang-, yang juga datang dari Tuhan…

    Melalui pendahuluan ini mudah2an kita bisa bijak menghadapi masalah, tanpa -akhirnya kita pun- terprovokasi karenanya, dan -akhirnya- menyudutkan salah satu golongan yang juga saudara kita…

    Thnx mas Ahmad buat tanggapannya..

    Best Regards…
    v1ndie5el@yahoo.com

  • HamDee

    Hehe… Tambahan dikit lagi..
    Orang FPI, bila salah mencerna tulisan saya, bisa2 juga akan membantai saya nih.. :)