Geek Building The Bridge Part 2 / 804 posts / 1,947 comments / feed / comments feed

Git, Subversion, and Akatsuki

Akatsuki

Sorry, I can’t help not including Akatsuki here as it should have been my post. But in the last minute, mas Ariya (seleb KDE) from the KDE fame, changed my mind.

Mas Ariya berkomentar tentang hari gini diriku masih memakai svn instead of git (git-svn). Hari gini dimana decentralized repository is the way to go, eh kok saya masih saja pakai Subversion. Meskipun posting komentarnya sudah pake smiley, I can’t help replying it seriously. Afterall, I need to cast away this gloomy mood of mine. So here I go. Ikuyo ..

Actually, I’ve been fascinated by decentralized repo. Where we can go wild on some project while still able to have the joy of versioning. Correct me if I’ve been holding wrong understanding looo. Decentralized repo berarti kita bisa nge-hack sampe sepuasnya tanpa harus (manually) export, membuat repo baru lalu melakukan versioning di repo lokal kita supaya tidak merusak source code di original repo. We can then push our changes to original tree when we feel it good enough.

Tapi mas, sejauh saya pernah membaca dan mencoba, untuk bisa merasakan decentralized repo semacam git. We have to pull out the whole changeset (?). Which sometimes can be humongous. Dan umumnya tidak baik bagi kondisi internet di Indonesia yang koneksinya Senin Kamis :p. Ya, saya memang meng-exclude Anda-anda yang tidur di sambing kabel fiber optik.

Dulu pernah mencoba svk, tapi masih bingung dan sepertanya saya salah pake karena saya selalu push back langsung ke original repo instead of local ones. Dan untuk git, saya dulu pernah mencicipi sewaktu berusaha mengkompile Xorg 7.x demi Beryl.

Mohon pencerahannya mengenai git ini. I’ve seen even gnomers are using git as well lately.

Aku pengen ikutan cosplay~!!

Powered by ScribeFire.

Sphere: Related Content

12 Comments

  1. paydjo — 10/30/2007 #

    waduh, gw pake svn di linux aja masih puyeng :((

  2. aldi — 10/30/2007 #

    pengalaman saya pake git sih, yang segede-gede gaban itu pas pull pertama aja. selanjutnya kecil-kecil banget kok. dan emang, sejak nyoba pake git, saya meninggalkan svn. thanks to video presentasi linus tentang git di google :D

  3. Akhmad Fathonih — 10/30/2007 #

    @aldi
    indeed, memang pas awal-awalnya saja yang segede gaban. Sepertinya cocok untuk keperluan rutin, tapi jadi Great Wall of China bagi para pencicip/newbie project. Hehehe, mungkin mekanisme pemakaiannya saja yang harus dibuat strategi supaya tidak ciut duluan waktu harus dihadapkan pada download gaban saat mau join ke repo. Misal: kirim patch instead of direct comitting :). Tapi cuman sekali dua kali itu saja. Selanjutnya, jika pengen rutin, harus rela nge-pull gaban :D

  4. adit — 10/30/2007 #

    ada artikel menarik tentang perbandingan CVCS Vs DVCS

    http://blog.red-bean.com/sussman/?p=79

  5. ariya — 10/30/2007 #

    Ya kalo misalnya dari subversion server di kampus/kantor/tempat kerja, ambil changeset yang pertamanya lokal saja, kan pasti supercepet.

    Kalau dari google project hosting, dari pertamanya aja pake git. seterusnya modal git-svn dcommit (dan rebase kalau perlu).

    Atau untuk kasus lain, kalau memungkinkan dapat svn dumpnya, rasanya bisa dicomot begitu saja, restore di subversion server lokal, lalu pull dari sana. Lebih cepat dari remote.

  6. Akhmad Fathonih — 10/30/2007 #

    @adit
    yes, makasih linknya .. mau saya baca dulu :D

    @ariya
    Yes, semuanya akan indah kalau bisa diakses lokal, thus decentralized versioning is the way to go :D

    Saya barusan kepikir mas, ada sedikit ketakutan yang terpercik akibat git. Jika bandwidth dan space yang diperlukan untuk pull sebuah project semakin meningkat seiring waktu, saya takut (secara implisit) hal ini akan me-reject developer-developer baru. Khususnya bagi developer yang belum memiliki peruntungan baik dengan bandwidth, apalagi yang moodnya cederung gampang berubah macam saya. In the long run, bisa-bisa developernya menyusut atau tidak banyak mengalami penambahan :p

    Ah, ini hanya alasan saja bagi saya untuk malas dan menunda partisipasi :p. In the long run mungkin bandwidth hanya akan jadi cerita lucu buat anak cucu. “Bandwidth? Grandpa is sooo nineties” :p

  7. ariya — 10/30/2007 #

    IIRC kalau ‘git clone’, bandwidthnya lebih efisien dari ’svn co’. Terus, space-nya yang dimakan juga lebih sedikit. Kadang, *seluruh* changeset git (direktori .git) lebih kecil dari *sebagian* repo subversion yang lokal (direktor .svn).

    Masalahnya kalau mau mix-and-match svn+git. Tapi ini sebetulnya mudah saja, apalagi kalau repository git kita nggak perlu menyimpan *semua* history svn yang remote. ‘git-svn fetch’ saja revision yang mau diambil.

    AFAICS git justru menolong *menambah* developer baru. Mereka sekarang tidak perlu selalu offline, bisa pull+push changeset kapan saja (bahkan lewat email).

  8. Akhmad Fathonih — 10/30/2007 #

    Ahh, begitu ya. Rupanya selama ini saya tertutup awan mitos dan ketidakberuntungan jumpa pertama (dengan git).

    BTW mas, untuk mencapai kondisi ideal “kadang” di atas, kira-kira apa prasyaratnya? Kondisi apa saja yang harus terpenuhi?

    Untuk git-svn fetch, itu berarti kita mengawali git repo kita dari revision tertentu ya mas? Sepertinya good enough untuk kasus-kasus yang pernah saya alami — a.k.a kasus sekedar mencelup kaki ke repo :p

    Yang terakhir, “offline” itu mestinya “online” kan?

  9. ariya — 10/30/2007 #

    Idealnya sih kalau nggak banyak file binary karena IIRC git memakai kompresi data (dari zlib). Lebih mantap lagi kalau nggak commit :-) (tapi yang terakhir ini ya nggak berguna hehe). Coba aja deh, nggak usah terlalu dipikirin. Nanti akan “terkejut” sendiri dengan efisiensi git.

    untuk ‘git-svn fetch’, lebih cepat paham dengan man:git-svn dan gg:git-svn di konqueror. dijamin kurang dari 5 menit sudah bisa dicoba. lebih cepat dari baca penjelasan svk…

    Yup, s/offline/online.

  10. Akhmad Fathonih — 10/30/2007 #

    Oke, terimakasih mas Ariya untuk penjelasan panjang lebarnya.

    Demikian pemrisa, telah kita dengarkan bersama wawancara bersama mas Ariya Hidayat of KDE/KOffice/Speedcrunch fame, langsung via teleconference dari Jerman.

    Sekarang kita kembali ke Studio Satu untuk wawancara lain, teleconference pun. Di Studio Satu, bersama kita telah tersambung presiden KDE e.V. itself, Mr. Aaron J. Seigo, yang akan memberikan kata sambutan dalam rangka detik-detik rilis KDE 4.0 *haiyah* :))

    Semoga saya bisa mencoba git di kesempatan memilih repo di kemudian hari :)

    Ehem, silahkan mister Seigo ..

  11. Black_Claw — 10/30/2007 #

    Itu foto cuman buat kalimat footer saja???
    *geleng2*

  12. Akhmad Fathonih — 10/30/2007 #

    ya nggaklah … aselinya malah pengen cerita akatsuki *serius*

Leave a comment

« Back to text comment