Talk is cheap, show me the code
Baru aja kubilang ke Lina: “Ya, minimal lebih kenceng lah daripada yang ada sehari-hari (pagi sampai sore). Jadi gk stress gitu kalo misalnya lagi pengen ngenet”. Sampai di kosan, eh ini aksesnya kok peak di 0.5KB. Huanjriiittt!!!! Padahal banyak yang harus dikerjakan, kok koneksi lemot macam gini. I’ve done quite a productive day. I wanna reward myself with a smooth access, upgrading fluxbox, dropping by at facebook and replying comment on kde-apps.org about Kate File Tree plugin.
Pengen nulis agak panjang tentang musik yang cocok untuk berinteraksi dengan komputer. Membayangkan musik yang nonstop sepertinya cocok juga untuk coding. Misalnya house music yang tidak ada ujung pangkalnya. membyangkan kalau musik yang dipilih bisa “disetel” supaya bisa go wild dan go calm down. Dan transisinya harus smooth seperti crossfade.
Pengen cerita tentang bapak sopir taksi yang nyetel musik house tapi rada gk sabaran. Huh, sengaja kukasih tips biar bapaknya merasa bersalah. Muwahahahah!!!
Pengen cerita juga tentang FoodFest, tempat makan baru deket kos2an yang dapet komentar “Enak sih .. tapi lama banget bo”. Juga tentang pergantian nama apotik yang sering adek dan aku pakai sebagai poin navigasi kalo naek taksi. Dari apotik Bentar menjadi apotik Srii.
Ya sudah gitu aja! Jangan banyak cincong klo tulisannya terlalu singkat dan tidak terlalu naratif. Sudah mending ada update ini! Dari kemaren netbeans-ku ngaco fitur subversionnya. Udah gk bisa ngapain2 pake svn. Padahal udah ngempet beberapa updetan penting yang harusnya dipush ke repo gratisan di google.
Huh!!
*berbalik, menyisakan lambaian jubah geng sepeda motor, dan kelbat pedang kendo di pundak*
*berjalan angkuh menuju motor, meninggalkan Minoru Siraishi dan Akira Kogami yang berseteru*
Muwahahahahah!! *ketawa licik bak wali kelas Bunga Matahari*
Powered by ScribeFire.
Sphere: Related Content
This section gives me most headache. But experience told me that this blog mostly contains personal ramblings related to daily life, open source, and web 2.0. Recently, it turns out to be an idea-box where you can found ideas you can execute in your new startup ;). My ideas and opinions are not bullet proof and never intended to be one way stream. Kindly participate to improve your and my perspective regarding any particular post. Welcome aboard and enjoy your stay
Kramero
October 25th, 2007 at 8:47 am
memangnya koneksi di rumah pake apa Ton..?
Akhmad Fathonih
October 25th, 2007 at 9:10 am
pake PSN kalo ndak salah … lagi lamabt bener beberapa hari ini, kencengnya jam 11 ke atas sampai pagi-pagi (sejauh sempat nyoba) ..
Ah, Indonesia
Black_Claw
October 25th, 2007 at 8:24 pm
Minorunya nyanyi gak?!
rekam!
Akhmad Fathonih
October 25th, 2007 at 9:16 pm
@BlackClaw
Nyanyi dong, tapi yang ngerti cuma pas Lagu Haruhi dan Lucky Star .. eh kmrn itu ada aksi Ultraman-nya gk sih, lupa-lupa inget .. ngakak aseli. Baru kali ini ending anime selalu ditungguin sampe selesai.
Abe
October 25th, 2007 at 9:45 pm
Wali kelas bunga matahari yaiksss…
Ariya
October 30th, 2007 at 8:58 am
Hari gini masih pake svn?
git (plus git-svn) rulez!!
Geek Building The Bridge Part 2 » Blog Archive » Git, Subversion, and Akatsuki
October 30th, 2007 at 10:02 am
[...] Git, Subversion, and Akatsuki Sorry, I can’t help not including Akatsuki here as it should have been my post. But in the last minute, mas Ariya (seleb KDE) from the KDE fame, changed my mind.Mas Ariya berkomentar tentang hari gini diriku masih memakai svn instead of git (git-svn). Hari gini dimana decentralized repository is the way to go, eh kok saya masih saja pakai Subversion. Meskipun posting komentarnya sudah pake smiley, I can’t help replying it seriously. Afterall, I need to cast away this gloomy mood of mine. So here I go. Ikuyo ..Actually, I’ve been fascinated by decentralized repo. Where we can go wild on some project while still able to have the joy of versioning. Correct me if I’ve been holding wrong understanding looo. Decentralized repo berarti kita bisa nge-hack sampe sepuasnya tanpa harus (manually) export, membuat repo baru lalu melakukan versioning di repo lokal kita supaya tidak merusak source code di original repo. We can then push our changes to original tree when we feel it good enough.Tapi mas, sejauh saya pernah membaca dan mencoba, untuk bisa merasakan decentralized repo semacam git. We have to pull out the whole changeset (?). Which sometimes can be humongous. Dan umumnya tidak baik bagi kondisi internet di Indonesia yang koneksinya Senin Kamis :p. Ya, saya memang meng-exclude Anda-anda yang tidur di sambing kabel fiber optik.Dulu pernah mencoba svk, tapi masih bingung dan sepertanya saya salah pake karena saya selalu push back langsung ke original repo instead of local ones. Dan untuk git, saya dulu pernah mencicipi sewaktu berusaha mengkompile Xorg 7.x demi Beryl.Mohon pencerahannya mengenai git ini. I’ve seen even gnomers are using git as well lately.Aku pengen ikutan cosplay~!!Powered by ScribeFire.Tags: I love Japan» mood» Open Source» Popularity: 1%These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages. [...]