Git, Subversion, and Akatsuki

October 30, 2007 · Filed Under I love Japan, Mood, Open Source · 12 Comments 

Akatsuki

Sorry, I can’t help not including Akatsuki here as it should have been my post. But in the last minute, mas Ariya (seleb KDE) from the KDE fame, changed my mind.

Mas Ariya berkomentar tentang hari gini diriku masih memakai svn instead of git (git-svn). Hari gini dimana decentralized repository is the way to go, eh kok saya masih saja pakai Subversion. Meskipun posting komentarnya sudah pake smiley, I can’t help replying it seriously. Afterall, I need to cast away this gloomy mood of mine. So here I go. Ikuyo ..

Actually, I’ve been fascinated by decentralized repo. Where we can go wild on some project while still able to have the joy of versioning. Correct me if I’ve been holding wrong understanding looo. Decentralized repo berarti kita bisa nge-hack sampe sepuasnya tanpa harus (manually) export, membuat repo baru lalu melakukan versioning di repo lokal kita supaya tidak merusak source code di original repo. We can then push our changes to original tree when we feel it good enough.

Tapi mas, sejauh saya pernah membaca dan mencoba, untuk bisa merasakan decentralized repo semacam git. We have to pull out the whole changeset (?). Which sometimes can be humongous. Dan umumnya tidak baik bagi kondisi internet di Indonesia yang koneksinya Senin Kamis :p. Ya, saya memang meng-exclude Anda-anda yang tidur di sambing kabel fiber optik.

Dulu pernah mencoba svk, tapi masih bingung dan sepertanya saya salah pake karena saya selalu push back langsung ke original repo instead of local ones. Dan untuk git, saya dulu pernah mencicipi sewaktu berusaha mengkompile Xorg 7.x demi Beryl.

Mohon pencerahannya mengenai git ini. I’ve seen even gnomers are using git as well lately.

Aku pengen ikutan cosplay~!!

Powered by ScribeFire.

Sudah setahun ternyata …

October 27, 2007 · Filed Under General · 6 Comments 

Sumpah Pemuda ^^

Si adek sudah duluan nulis bahwa 28 Oktober 2007 ini akan jadi penanda setahun penuh kami telah menikah. Oleh karena itu …

Terimakasih kepada orangtua dan mertua, untuk restu dan doanya dalam pernikahan kami (waktu itu dan sampe sekarang).

Terimakasih Tuhan, telah memberikan jalan kepada kami untuk menikah.

Terimakasih Tuhan, tetap menyatukan kami setahun ini.

Terimakasih Tuhan untuk segala suka yang kami nikmati dan duka yang jadi hikmah bagi kami.

Tuhan, jadikan aku suami yang lebih baik lagi bagi istriku dan selalu bisa melihat kebaikan istriku.

Terimakasih adek untuk kasih sayangmu yang tiada tara :”>. Mau lagi dooong :*

Happy 1st Anniversary Hooonnn :*

PS:
Intinya bukan pada yang lain-lain selain kontemplasi, mensyukuri nikmat, dan memupuk mental “selalu menjadi lebih baik”


Ustadz Akhmad Fathonih ^^;

Powered by ScribeFire.

*tarik napas dalam-dalam*

October 23, 2007 · Filed Under Mood, Regular Hours · 7 Comments 

Baru aja kubilang ke Lina: “Ya, minimal lebih kenceng lah daripada yang ada sehari-hari (pagi sampai sore). Jadi gk stress gitu kalo misalnya lagi pengen ngenet”. Sampai di kosan, eh ini aksesnya kok peak di 0.5KB. Huanjriiittt!!!! Padahal banyak yang harus dikerjakan, kok koneksi lemot macam gini. I’ve done quite a productive day. I wanna reward myself with a smooth access, upgrading fluxbox, dropping by at facebook and replying comment  on kde-apps.org about Kate File Tree plugin.

Pengen nulis agak panjang tentang musik yang cocok untuk berinteraksi dengan komputer. Membayangkan musik yang nonstop sepertinya cocok juga untuk coding. Misalnya house music yang tidak ada ujung pangkalnya. membyangkan kalau musik yang dipilih bisa “disetel”  supaya bisa go wild dan go calm down. Dan transisinya harus smooth seperti crossfade.

Pengen cerita tentang bapak sopir taksi yang nyetel musik house tapi rada gk sabaran. Huh, sengaja kukasih tips biar bapaknya merasa bersalah. Muwahahahah!!!

Pengen cerita juga tentang FoodFest, tempat makan baru deket kos2an yang dapet komentar “Enak sih .. tapi lama banget bo”. Juga tentang pergantian nama apotik yang sering adek dan aku pakai sebagai poin navigasi kalo naek taksi. Dari apotik Bentar menjadi apotik Srii.

Ya sudah gitu aja! Jangan banyak cincong klo tulisannya terlalu singkat dan tidak terlalu naratif. Sudah mending ada update ini! Dari kemaren netbeans-ku ngaco fitur subversionnya. Udah gk bisa ngapain2 pake svn. Padahal udah ngempet beberapa updetan penting yang harusnya dipush ke repo gratisan di google.

Huh!!

*berbalik, menyisakan lambaian jubah geng sepeda motor, dan kelbat pedang kendo di pundak*

*berjalan angkuh menuju motor, meninggalkan Minoru Siraishi dan Akira Kogami yang berseteru*

Muwahahahahah!! *ketawa licik bak wali kelas Bunga Matahari*

Powered by ScribeFire.

Bluetooth PAN

October 21, 2007 · Filed Under General · Comment 

I’ve been desperately trying to enable PAN (Personal Area Network) for several days. There’s one time I made it and the other were screwy days.

I found the secret recipe today. Or I suppose so. To be able to make Windows (XP) connect to Linux Bluetooth PAN/NAP, make sure you’ve chosen “Allow to make private network connection” and not the “Allow to connect to LAN/Internet” on your Bluetooth Configuration Dialog. This configuration finally allows me pair Windows box with my Linux box, and happily ping it. Removing that configuration apparently will prevent Network Access Point connection from Windows box.

Basically we need to start PAN daemon, there are many ways you can found via google. I choose setting up PAND_OPTIONS via /etc/default/bluetooth, ie: PAND_OPTIONS=”–listen –role NAP –master –devup /etc/bluetooth/pan/dev-up”

And then putting these lines in /etc/bluetooth/pan/dev-up

#!/bin/sh
echo 1 > /proc/sys/net/ipv4/ip_forward
ifup bnep0
sleep 2 # this is still problematic as dhcp3-server may have been started before bnep0 is ready
/etc/init.d/dhcp3-server restart

Also (trying) to autoconfigure iptables via /etc/network/interfaces. Related to above dev-up script, these configuration doesn’t seem to be loaded as bnep0 always up with no ip. Thus I need to ifdown bnep0 and the ifup bnep0, and finally restarting dhcp3-server (plus refreshing Windows bnep IP address — via Repair button)

#bluetooh icsiface bnep0 inet static          address 10.0.0.1          netmask 255.255.255.0

post-up iptables -t nat -A POSTROUTING -s 10.0.0.0/24 -j MASQUERADEpost-up iptables -A FORWARD -i bnep0 -o eth0 -j ACCEPTpost-up iptables -A FORWARD -o bnep0 -i eth0 -j ACCEPTpre-down /etc/init.d/dhcp3-server stop

The traffic log via wireshark illustrates no problem are happening between Windows box and Linux box, but my Linux box seem to be unable to forward the traffic from my PAN my LAN. DNS request are recorded to my local router but there’re no replies. Checking from cmd on Windows box, there’s no ping reply from my LAN router.

I’m pretty much n00b with networking, further more iptables :p

Powered by ScribeFire.

Cerita Lebaran 1428H (2007)

October 21, 2007 · Filed Under General · 7 Comments 

the perfect green canopyLebaran kali ini terasa sangat singkat, namun rasanya menyisakan banyak memori. Cieeeh. Di antaranya seperti yang bisa dilihat di samping, berfoto di kawasan Batu, di bawah kanopi yang begitu hijau. Sempat ternganga juga melihat kebun bunga terhampar di sepanjang jalan kecil beraspal, berkelok naik turun di belakang perumahan. Sepertinya fotonya ada di koleksi flickr si adek.

Book of The Big Tree: Avatar, and uncle ToniAda yang baru di lebaran kali ini. Selain melewatkan waktu bersama, mudik bersama istri, pergi ke rumah ortu dan mertua, demam gelombang cinta di mana-mana, ada juga kenangan pegel linu bersama keponakan-keponakan yang nempel kemana-mana. Berhubung om Toni ini nonton dan mengikuti Avatar via internet, akhirnya cuma om Toni saja yang bisa “nyambung” dengan celoteh Sandy dan Kevin. Sandy hobi membaca manga dan menonton anime, sementara Kevin lebih interaktif dengan hotwheel. Dua-duanya  mengikuti avatar dengan penafsiran yang berbeda. Kalo dipikir-pikir, sebenarnya mungkin om Toni udah jadi “angpaw” lebaran buat Sandy dan Kevin :)).sandy and the river

Cerita dan foto yang lain bisa dibaca dan dilihat di blog si adek. Cerita selanjutnya dari saya adalah keluh kesah krisi kepercayaan diri dan pikiran membuat resolusi meskipun tahun baru belum menjelang.

Hari ini kami keluar jalan-jalan. Si adek memang tak betah berdiam diri, kalau tidak sibuk maen Zuma (oleh-oleh lebaran dari Malang) atau blogwalking :p. Kebetulan memang sudah berencana mau mencari MMC/SDCARD baru untuk menggantikan 16MiB yang sudah usang dan sering disumpahi. Seperti biasa, acaranya berubah menjadi mampir kesana kemari. Termasuk ke social agency membeli 3 buku, masuk Galeria membeli tas baru (khusus buat laptop kata si adek), kemudian ke Gramedia untuk mencari SDCARD. Justru tujuan utamanya yang gagal total. Harganya ternyata lebih mahal daripada yang sudah diketahui dari survey sebelumnya. Akhirnya kita pun membeli SDCARD di toko yang tak jauh dari kos-kosan :)). Ya, meskipun rada lelah, paling tidak kita tak lagi punya tanda tanya apakah harga di tempat lain bisa lebih murah.

Bye-bye 16MiBJalan-jalan ini juga menambah item dalam daftar tunggu (baca: tunda) saya. Usagi Yojimbo, novel grafik yang diterbitkan oleh Dark Horse Comic, menemani Gundam Justice Chibi yang belum saya rakit. Dan menjadi saingan ketat dari resolusi menamatkan membaca Head First Design Pattern. Buku Head First ini bakal muncul kembali dari balik debu-debu rak buku akibat kembali tumbuhnya ketidakpercayaan diri saya akan penguasaan pattern. Trying catching up the planets, especially planetkde and the 4.0 trunk, setelah ditinggal libur lebaran, benar-benar membuat saya minder saat menemui istilah Delegate, Facade dan lain-lain.
procrastination items

Hmm, ada yang terlewat tidak ya? Aim for new job in 2008? Kayaknya sudah dari tahun kemaren deh :)). New production-level skill by 2008? Qt or Java? Yang jelas, lebih banyak tabungan di 2008 :D

Powered by ScribeFire.

Cineplex21 Plasmoid

October 2, 2007 · Filed Under Dev Hours, Open Source · 7 Comments 



cineplex21 plasmoid

Originally uploaded by Framed Geek

Yesterday was the data engine, and today is the plasmoid. I have to refine the data structure within Cineplex21 Data Engine. Mostly to comply with the API. There’s no ultimate rule on how you should structure your data. Though it would be nice to follow the example given on other plasmoids. At least until there’s an official standard for it.

I started this plasmoids from Clock code. Copy the folder and rename the bits. CMakeList.txt almost made me pulling out hairs, until I found the typo. I missed one line that still referring to ${clock_SRCS}. That’s what you’ll get for being lazy :p

So, that’s it. You can see it in the screenshot. A very minimal look with very minimal info. TODO: add schedule information, and maybe put some credits information in it. I need to tell that data is pulled from 21cineplex.com via Dapper.

For you Indonesian, put this plasmoid on your desktop! Huzzah for KDE4!! Banzai~

PS:
it’s now hardcoded to show schedule for Ambarukmo Plaza Studio. It’s a matter of config to make it possible to choose which theater to display.

Drupal

October 2, 2007 · Filed Under Mood · 1 Comment 

I f**ing hate Drupal theme-ing!

Powered by ScribeFire.

FUNimation Imbau Penghentian Fansub

October 2, 2007 · Filed Under I love Japan · 3 Comments 

Pak Er-Te Risiyanto memberikan woro-woro di id-anime tentang imbauan FUNimation mengenai penghentian fansub (via jawa pos). Cuplikannya sebagai berikut:

Mulai bulan ini, para otaku di luar Jepang harus menunggu untuk menikmati anime yang diadaptasi dari karya William Shakespeare, Romeo x Juliet. Sebab, dalam situsnya, Shinsen-Subs menyatakan berhenti melakukan subtitling anime jebolan Gonzo ini.

Shinsen-Subs melaporkan bahwa mereka mendapat surat dari FUNimation, yang bicara atas nama Gonzo, Kamis pekan lalu. Pihak Shinsen-Subs pun segera mengumumkan dalam situs mereka tentang penghentian fansub Romeo x Juliet. Dalam suratnya, FUNimation menyebutkan, “Sangat penting untuk diperhatikan bahwa hak cipta yang dimiliki produser Jepang masih berlaku di seluruh penjuru dunia, bahkan sebelum anime tersebut dilisensi untuk distribusi lokal.”

Dan berikut ini adalah tanggapan saya yang juga bisa dinikmati di milis id-anime.

Sepertinya, distributor anime mulai menghadapi dilema yang sama dengan
distributor musik. dalam dunia musik, sudah terjadi kontroversi
pemakaian DRM. Pihak distributor memaksa pengimplementasian DRM,
sementara konusmen tidak puas karena teknologi tersebut malah membuat
haknya terkurangi. Sudah beli kok tidak bisa dimainkan di hardwarenya
yang lain.

dunia internet sekarang ini benar-benar mengubah pola konsumsi
konsumen. Kedudukan konsumen di dunia online, kurang lebih sudah bisa
sejajar dengan kekuatan produsen. Konsumen, bersama-sama, bsia saja
membunuh produsen karena produsen bermain nakal atau semena-mena.
Sayangnya produsen saat ini belum menemukan cara efektif untuk
menghadapi dan memanfaatkan perubahan pola konsumsi. Akhirnya langkah
yang diambil berupa langkah konvensional. Yakni memaksakan pembatasan,
alih-alih memanfaatkan kondisi pasar yang teramat sangat subur dan kondusif.

Sayangnya saya bukan ahli bisnis atau marketing expert. Entah
model bisnis seperti apa yang bisa dipakai untuk mempertahankan profit
tanpa mengecewakan konsumen. Produsen anime tentunya membutuhkan biaya
produksi dan konsumen membutuhkan anime yang dia inginkan secara cepat
dan murah. Distributor dan pelisensi saja mungkin yang suka membuat
onar dengan permodalan dan FUD-nya terhadap produsen.

Hubungan konsumen dan produsen (serta distributor) telah dan
sedang berubah. Akan menjadi sangat menarik unutk melihat seperti apa
hasil akhir perubahan tersebut dalam masa dekat ini. DRM dikutuk,
iPhone pun di-unlock. Apa yang akan (harus kita lakukan terhadap)
anime?

Powered by ScribeFire.

Cineplex 21 Plasma Data Engine

October 1, 2007 · Filed Under General · 3 Comments 



Cineplex 21 Plasma Data Engine

Originally uploaded by Framed Geek

Yes, I finally got my hands wet in KDE4. A little luck has giving me the ultimate desire of my life so far, ie: playing with new KDE4 technology. Solid, Phonon, Decibel, etc is out of reach at the moment. I have no luck nor skill to play with those ones.

The field is different with Plasma. I’m no graphic ninja, but I love (simple) data processing. I’ve been playing with Dapper and Pipes. Now, KDE 4 has given me new toy to play with. Plasma has data engine! Roughly, we can provide a custom data which every Plasmoid will be able to access. We can do whatever we need behind the stage and present the result in some sort tuples.

Next will be, obviously, making my own Plasmoid! Yatta~