Talk is cheap, show me the code
Apa sebenarnya yang disebut sebagai manajemen mikro. Manajemen mikro adalah manajemen yang benar-benarnya mengagungkan ketelitian sangat tinggi dengan jalan memastikan semua aspek, sampai dengan yang terkecil, telah berjalan sesuai rencana. Caranya? Dengan cara kita periksa sendiri satu persatu, memastikan bahwa semunya dikerjaan dengan cara kita. Manajemen mikro muncul karena adanya unsur ketidakpercayaan pada (semua) pihak (dan mungkin terutama) bawahan sehingga mau tidak mau semua pekerjaan harus kita pastikan sendiri. Sebagian besar atau hampir semua orang menganggap manajemen mikro sebagai penyakit. Sisi positifnya memang ada karena kita akhirnya bisa memastikan hasil dari manajemen pasti akan seperti yang telah direncanakan. Namun, sisi negatifnya mungkin jauh lebih banyak.
Alih-alih delegasi tugas atas dasar trust, yang muncul adalah kegiatan pemaksaan kerja dan malpraktek kekuasaan. Alih-alih pekerjaan bisa cepat diselesaikan, yang didapat adalah suasana kerja yang tidak menyenangkan. Entah siapa yang sanggup bekerja dengan sepenuh hati kalau sudah tahu bahwa sebenarnya dia tidak dipercaya. Bahwa, sebenarnya, sebaik apapun hasilnya nanti tetap saja tidak ada harganya.Bahwa, apabila dia salah maka tamatlah riwayatnya.
Hubungannya dengan manajemen mood? Simple, distrust seperti sudah ditulis di atas akan membuat orang tidak semangat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja karena tidak adanya motivasi. Tidak bergunanya inovasi dan kreatifitas membuat eksistensinya tidak dianggap. Hey, tidakkah semua orang ingin dikenal? Entitas manusia ada karena ada entitas lain yang mengetahui keberadaan entitas pertama. Seberapa besar pun sifat anti sosialnya Anda, Anda pasti tetap akan merindukan teman.
Apakah faktor mood ini benar bisa dibenarkan keberadaannya? Iya, selalu, karena mood adalah sifat dasar manusia. Oleh karena itu mood tidak akan tepat untuk sekedar disalahkan tapi lebih tepat untuk dibentuk dan dipelihara levelnya. Kita punya pilihan, membiar mood jelek dibawa dari rumah, atau menghilangkannya di tempat kerja dengan suasana kondusif untuk bekerja. Tidak semua mood bisa dipulihkan karena penyebabnya bermacam-macam. Akan tetapi, paling tidak, jangan sampai mood yang tidak baik itu justru muncul dari tempat kerja itu sendiri. Apa kata dunia?!
MTC (My two cents). YMMV (It’s my two cents. Your mileage may vary)
PS:
Powered by ScribeFire.
Sphere: Related Content
This section gives me most headache. But experience told me that this blog mostly contains personal ramblings related to daily life, open source, and web 2.0. Recently, it turns out to be an idea-box where you can found ideas you can execute in your new startup ;). My ideas and opinions are not bullet proof and never intended to be one way stream. Kindly participate to improve your and my perspective regarding any particular post. Welcome aboard and enjoy your stay
Herman Saksono
September 11th, 2007 at 10:05 am
Masih ingat faktor Higienis dan faktor Motivator? Higienis lebih berkisar pada kantor keren, gaji gede, bonus besar dan jabatan mentereng. Tapi itu semua tidak bisa membuat pekerjaan menjadi sangat memuaskan kalau tidak ada faktor Motivator, seperti tanggung jawab besar, pekerjaan penuh tantangan, proses yang baik.
Jadi, micromanagement–mungkin–memang menghasilkan output yang wah, tetapi karyawan tidak akan merasa puas bekerja dan tidak merasa memiliki tanggung jawab. Akibatnya (ini analisis pribadi) nasib perusahaan bergantung pada satu orang. Kalau satu orang itu lenyap, ya nasib perusahaan kurang-lebih ya ikutan lenyap.
[Reply]
Akhmad Fathonih
September 11th, 2007 at 10:56 am
@Herman Saksono
Kamu mungkin ada benarnya tentang ketergantungan akibat manajemen mikro. Setelah Walt tiada, Disney sempat mengalami “krisis”, sampai datang penggantinya yang kurang lebih punya visi sama.
Manajemen mikro hanya kuserempet sedikit saja di atas, bagaimana dengan perkara mood, apa pendapatmu? Apakah itu hanya alasan saja bagi pekerja yang malas?
[Reply]
ariawan
September 11th, 2007 at 11:14 am
hmm… saya kira begitu mas..
* gak mutu *
[Reply]
Herman Saksono
September 11th, 2007 at 12:56 pm
Toni:Apakah itu hanya alasan saja bagi pekerja yang malas?
Itu adalah excuse bagi pekerja malas yang malas, tepi jelas bukan excuse kalau pekerja itu tidak malas.
[Reply]
Akhmad Fathonih
September 11th, 2007 at 1:05 pm
@Herman Saksono
Ah, pasti ada mood yang melandasi komentarmu itu :p
[Reply]