Branstorming dan teknik storyboard
Lagi-lagi dari The Disney Way. Dikatakan di sana bahwa mekanisme curah pendapat/brainstorm yang lazimnya kita temui, eg: dengan seorang pemimpin acara yang kemudian menanyai atau membuka kesempatan pada tiap peserta curah pendapat, adalah sangat kurang efektif. Kok bisa? Apa pembandingnya sehingga bisa mengatakan pola tersebut tidak efektif? Kan sudah demokratis banget itu? Well, pembandingnya adalah teknik storyboard atau mungkin lebih dikenal dengan metaplan oleh banyak orang. Masa sih?
Yang pertama adalah tentang multitasking atau time slicing. Dengan teknik brainstorming (curah pendapat) yang reguler, hanya satu orang pada satu saat bisa berbicara. Bayangkan jika semua orang bisa berbicara pada satu saat tanpa saling menginterupsi. Tidakkah itu akan lebih efektif bagi suatu proses pengumpulan pendapat? Teknik storyboard menggunakan alat berupa lembaran kertas dan alat tulis yang dibagikan pada peserta curah pendapat. Tiap peserta kemudian, dengan berbekal kata kunci yang diberikan moderator, menuliskan pendapatnya masing-masing. Setiap kertas mewakili sati pendapat dan tiap orang boleh menulis di lebih dari satu kertas. Terbayang bukan value paralelismenya? Tidak lagi emulated multitasking atau timeslicing, tapi realtime independent paralelism.
Yang kedua adalah faktor anonimitas. Pada pola curah pendapat reguler seringkali ditemukan kendala keraguan untuk menyampaikan pendapat karena takut akan efek samping dari identitas atau atribut lain yang melekat. Seorang bawahan mungkin takut idenya terlalu tidak berharga bagi atasan. Seorang staf marketing mungkin takut idenya tidak layak disampaikan dalam forum manajemen. Selain kendala “takut”, penyampaian pendapat secara bergantian sering menghadapi kendala “pembunuhan” ide. Adalah lazim jika ada orang lain mempunyai pandangan berbeda maka ia akan meng-counter pendapat seseorang yang berseberangan. Teknik storyboard mengeliminasi dua hal tadi karena teknik storyboard mampu menyediakan ruang anonim dan menghilangkan filter ide yang datang terlalu dini. Terbayang lagi kan berapa pendapat yang bisa dikumpulkan dengan adanya kenyamanan menyampaikan pendapat dan tidak adanya filter dini? Tentu saja akan lebih banyak pendapat bisa dikumpulkan dibandingkan dengan penggunaan teknik reguler.
Pendapat yang tidak tereliminasi dan apa adanya mampu memberikan informasi tambahan. Misalnya ternyata lebih dari 50% orang menyatakan bahwa pencarian dana adalah wacana esensial. Forum akan menjadi sadar bahwa wacana tersbut benar-benar esensial dan bukan sekedar wacana yang diketahui bersama saja.
Ketiga, sarana storyboard berupa potongan kertas yang bisa ditempel di papan tanpa batasan luas mampu memberikan gambaran visual yang lebih daripada curah pendapat yang dicatat di alat tulis elektronis atau kertas biasa yang memiliki batasan dimensi luas. Gambaran yang lebih luas juga pastinya bisa memberikan insight pada permasalahan atau sama sekali mengubah anggapan/hipotesa yang telah ada sebelumnya. Eg: Oh, ternyata justru pengalamanlah yang dicari-cari karyawan dan bukan faktor bonus.
Kertas yang bisa dipindah-pindah juga membuat usaha pengolahan curah pendapat menjadi lebih mudah — ibarat IDE yang memiliki sifat RAD. Forum bisa mengelompokkan hasil-hasil yang ada, bisa mengatur dan mengurutkan untuk berhipotesa, atau mencoba merumuskan dan mencoba solusi-solusi baru.
Begitulah. Tampak menarik bukan? Mari kita coba bersama-sama
Update:Kelupaan, salah satu hal penting dalam teknik ini, akibat anonimitas, adalah bahawa hasil dari curah pendapat ini nantinya akan menjadi milik bersama. Tentu saja rasa memilikinya akan sangat berbeda daripada hasil curah pendapat dengan teknik reguler.
PS:
Istri: Itu sih udah biasa pake setiap hari.
Suami: Eh? *bengong*
Powered by ScribeFire.
Sphere: Related Content
- Posted by Akhmad Fathonih at 01:35 pm
- Permalink for this entry
- Filed under: General
- RSS comments feed of this entry
- TrackBack URI








lah itu adalah prinsip-prinsip dasar menfasilitasi dengan pendidikan orang dewasa, ya kayak gitu itu…kalo mau diajarin, bayar!!:))
kalo saya secara pribadi melakukan brainstorming, storyboard, atau apalah itu dengan selalu membawa kertas/notes berwarna kuning yang bisa disimpan di saku, selain bisa menjadi hipsterPDA ya bisa jadi tujuan 2 di atas. kalo pas lagi kemana gitu ada ide, tulis. kalo pas lagi nunggu liat kanan kiri ada sesuatu yang “aneh”, tulis, dst.
cara lain yang saya lakukan adalah mempunyai papan tulis di kamar, papan tulis ini menjadi wadah seperti halnya kertas kuning ketika di kamar. jika saya mau pergi langsung saya sinkonisasikan apa yang ada di papan tulis dengan kertas kuning begitu pula ketika pulang.
di depan komputer pun saya punya KNotes yang siap ditulis, walaupun saya jarang melakukannya karena alasan “mending pake yang manual” karena agak repot jika harus membuka komputer untuk melihat log atau sync
@sofie
Oke oke .. tulis aja di bill ya hon
@stwn
Great tips .. sometime electronic media ust not ussable enough untk menangani curahan otak yang kadang tak bisa dicatat dengan model pakem
Daku belum punya hipster PDA .. masih kertas alakadar yang tercecer di sana dan di mari ..