Talk is cheap, show me the code
Sayang buku The Disney Way-nya sedang tidak saya bawa, kalau tidak tentu akan saya cite-kan paragraf yang memberikan bukti bahwa pola kemitraan itu lebih baik daripada pola kompetisi. Hmm, dengan model pikiran saya yang selalu menganut falsafah: tergantung, mungkin memang pernyataan di atas tidak selalu benar juga. Pernyataan tersebut pasti menuntut seuatu asumsi-asumsi tertentu. Kebetulan, sebelum tidur larut semalam, pikiran saya berkecamuk, tak bsia berhenti memikirkan hal ini. Setelah berdialog dengan istri (oh ampun, dia tahu banyak sekali :*), akhirnya saya gatal untuk menulis perbandingan antar model kerja kompetisi dan model kerja kemitraan. Monggo dicermati bersama.
Kita mulai dari kompetisi. Kompetisi memerlukan asumsi-asumsi, antara lain: tersedianya reward (dan pusnihsment). Tentu saja, akan susah memicu kompetisi jika tidak ada sesuatu berharga yang bisa dikejar. Sesuatu yang berharga ini bsia jadi bahasan tersendiri, tapi intinya adalah sesuatu ini harus benar-benar bisa dirasakan langsung oleh pelaku kompetisi. Asumsi selanjutnya adalah tersedianya kondisi aman atau stabil. Sebenarnya saya agak ragu dengan asumsi ini. Tapi saya berpikir, jika kondisi tidak aman atau tidak stabil, iklim kompetisi yang meletup-letup saya kira bisa berbahaya bagi kondisi tempat berlangsungnya kompetisi. Bisa saja kondisi yang tidak stabil menjadi semakin fragil dan mungkin saja kolaps.
Berbeda halnya dengan model kerja kemitraan. Model kemitraan memerlukan asumi tersedianya komitmen dan kesepahaman. Bahwa diperlukan usaha bersama. Bahwa diakui adanya dependensi antar komponen dan yang tidak boleh lupa bahwa harus disepakati bahwa semua pihak adalah setara kedudukannya, semuanya penting dan mempunyai peran khusus yang tidak bisa digantikan. Kemitraan juga menuntut trust sehingga suatu task bisa didelegasikan dengan aman dan nyaman. Phew, trust ini juga bisa jadi bahasan yang panjang. Unfortunately, saya belum dapat banyak pencerahan tentang seluk beluk trust ini :D. Yang terakhir, kemitraan ini mempunyai tidak mempunyai asumsi kondisi lingkungan. Pada lingkungan yang tidak stabil, kemitraan cocok untuk dipakai karena bisa memberikan kohesi, dan pada lingkungan yang telah stabil serta kohesif model kemitraan bisa meningkatkan performa karena sifatnya yang seperti lubricant pada gear-gear peserta kemitraan.
Whoaa (heboh) .. disambung lagi nanti ya, masih ada tiga poin perbandingan lagi, plus kesimpulan
PS:
CMIIW. Mohon bimbingannya pada kakak-kakak yang sudah tercerahkan. Yoroshiku onegai shimasu!
Powered by ScribeFire.
Sphere: Related Content
This section gives me most headache. But experience told me that this blog mostly contains personal ramblings related to daily life, open source, and web 2.0. Recently, it turns out to be an idea-box where you can found ideas you can execute in your new startup ;). My ideas and opinions are not bullet proof and never intended to be one way stream. Kindly participate to improve your and my perspective regarding any particular post. Welcome aboard and enjoy your stay
sofie
August 29th, 2007 at 10:36 am
komitmen terutama bagi para pemangku kepentingan/ pembuat kebijakan, sehingga kemitraan ini bisa dijadikan kultur yang baik, bukan hanya dipajang di atas kertas. plus, dalam komitmen ini adalah bagaimana masing-masing bertanggung jawab pada fungsi dan wewenang sesuai siklus proyek, jangan sampe pembuat kebijakan mikirin proyek and duit melulu, lupa kalo dia harusnya ngasi internal capacity building, terus staf nya mikirim bagaimana membuat kultur berusaha yang baik malah lupa ngerjain proyek:))….plisss deh….
Herman Saksono
August 29th, 2007 at 11:03 am
Ini kompetisi dalam konteks bisnis apa dalam konteks kerja ton?
Ini Bab 1 ya? Bab 2 aku tunggu ya!
Akhmad Fathonih
August 29th, 2007 at 11:20 am
Oh ya saya tadi lupa belum menyebut, tulisan di atas mempunyai asumsi berada dalam konteks kerja :). Bab 2-nya setelah makan siang
Isaam Khalid
August 29th, 2007 at 11:47 am
Tsah, Mas Toni mulai punya obsesi jadi manajer nih
Dulu mana mau ngomongin ginian
Posting yang menarik mas. Memberi masukan yang sangat perlu kupikirkan nih. Ditunggu terusannya.
Akhmad Fathonih
August 29th, 2007 at 12:06 pm
Bukan obsesi, ini hanya sebuah mekanisme berbagi teori. Daripada menyesaki kepala, lebih baik aku keluarkan supaya lebih lega
Geek Building The Bridge Part 2 » Blog Archive » Kompetisi dan kemitraan Part 2
August 29th, 2007 at 12:35 pm
[...] Kompetisi dan kemitraan Part 2 Menyambung tulisan sebelumnya, mari kita lanjutkan bersama bahasan kita tentang kompetisi dan kemitraan ini. Heheheh, sok serius.Oke, setelah kita sudah membahas tentang asumsi atau requirement yang diperlukan dalam kompetensi dan kemitraan, kita beranjak menuju konteks yang berlaku di masing-masing model. Dalam model kompetensi, konteks yang berlaku adalah konteks mengkatalisasi atau lebih cocoknya meletupkan. Dalam kondisi stabil, pasti ada kecenderungan munculnya stagnansi atau degradasi performa secara incremental. Lumrah, biasanya kondisi aman dan makmur cukup handal dalam membuai orang untuk lengah dan pongah. Kompetensi, dalam kondisi tersebut, akan membawa bahan bakar baru yang bisa (meskipun tidak pasti) meletupkan performa kerja.Sementara itu, di sisi lain, kemitraan memiliki konteks evolusi pasti. Kemitraan lebih berfungsi seperti semen di antara batu bata atau lubricant dalam gear. Sifatnya yang merekatkan dan memperlancar suatu proses akan membawa pada suatu perubahan pasti. Meskipun demikian prosesnya (dalam fase awal) bisa jadi memakan waktu yang cukup signifikan — tidak seperti kompetisi yang bisa melecut dalam kecepatan tinggi in any unpredictable time.Kompetisi mengedepankan iklim individu, oleh karena itu sangat cocok untuk digunakan dalam suatu proses yang saling bebas alias tidak memiliki dependensi satu sama lain, misalnya: riset, dan penjualan. Sebaliknya, dalam pelaksanaan proses yang (saling) memiliki dependensi, kemitraan lebih pas untuk diterapkan. Kemitraan mendukung iklim kelompok. Dengan adanya pengakuan kesetaraan dalam model menyebabkan dependensi proses tidak menjadi suatu isu signifikan atau malah tidak menjadi isu sama sekali. Seorang anggota suatu kelompok kemitraan akan menjadi cenderung proaktif karena tidak menganggap proses lain sebagai sesuatu yang tidak patut dipedulikan. Dan sebaliknya, anggota kemitraan dalam proses lain akan sangat open terhadap masukan dan tidak akan menganggapnya sebagai campur tangan kurang ajar.Lalu, mana yang lebih baik antara model kompetensi dan kemitraan? Seperti yang saya tulis dalam bagian pertama tentang kompetensi dan kemitraan, masing masing menuntut kondisi berbeda. Dan dalam tulisan part 2 ini, kita juga bsia melihat bahwa keduanya akan membawa efek yang berbeda pula. Kompetensi bisa dipakai jika dalam suatu lingkungan kerja diinginkan suatu quick boost. Sedang kemitraan lebih cenderung dipakai jika diinginkan incremental boost (tidak saya sebut slow karena memang tidak tepat). Keduanya mampu membawa kita pada kondisi tercapainya suatu angka performa tertentu. Namun, jika dilihat lebih dalam grafik, performa dari model kompetensi dan kemitraan akan tampak berbeda. Grafik performa model kompetensi akan mempunyai variasi tinggi dan rendah yang ekstrim, tersebar secara tidak merata di antara anggotanya. On the otherhand, kemitraan cenderung membentuk grafik yang tidak mempunyai variasi ekstrim. Performa anggota akan tampak merata, baik itu rata tinggi maupun rata rendah (tergantung dari fase yang sedang dijalani).Jadi? Jika kita lebih memerlukan konsolidasi daripada letupan tentunya model kemitraan bisa kita pertimbangkan.PS:CMIIW. Dan mohon koreksinya untuk pemakaian term atau kosakata yang belum tepat.Powered by ScribeFire. Popularity: 1%These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages. [...]