Talk is cheap, show me the code
Menyambung tulisan sebelumnya, mari kita lanjutkan bersama bahasan kita tentang kompetisi dan kemitraan ini. Heheheh, sok serius.
Oke, setelah kita sudah membahas tentang asumsi atau requirement yang diperlukan dalam kompetisi dan kemitraan, kita beranjak menuju konteks yang berlaku di masing-masing model. Dalam model kompetisi, konteks yang berlaku adalah konteks mengkatalisasi atau lebih cocoknya meletupkan. Dalam kondisi stabil, pasti ada kecenderungan munculnya stagnansi atau degradasi performa secara incremental. Lumrah, biasanya kondisi aman dan makmur cukup handal dalam membuai orang untuk lengah dan pongah. Kompetisi, dalam kondisi tersebut, akan membawa bahan bakar baru yang bisa (meskipun tidak pasti) meletupkan performa kerja.
Sementara itu, di sisi lain, kemitraan memiliki konteks evolusi pasti. Kemitraan lebih berfungsi seperti semen di antara batu bata atau lubricant dalam gear. Sifatnya yang merekatkan dan memperlancar suatu proses akan membawa pada suatu perubahan pasti. Meskipun demikian prosesnya (dalam fase awal) bisa jadi memakan waktu yang cukup signifikan — tidak seperti kompetisi yang bisa melecut dalam kecepatan tinggi in any unpredictable time.
Kompetisi mengedepankan iklim individu, oleh karena itu sangat cocok untuk digunakan dalam suatu proses yang saling bebas alias tidak memiliki dependensi satu sama lain, misalnya: riset, dan penjualan. Sebaliknya, dalam pelaksanaan proses yang (saling) memiliki dependensi, kemitraan lebih pas untuk diterapkan. Kemitraan mendukung iklim kelompok. Dengan adanya pengakuan kesetaraan dalam model menyebabkan dependensi proses tidak menjadi suatu isu signifikan atau malah tidak menjadi isu sama sekali. Seorang anggota suatu kelompok kemitraan akan menjadi cenderung proaktif karena tidak menganggap proses lain sebagai sesuatu yang tidak patut dipedulikan. Dan sebaliknya, anggota kemitraan dalam proses lain akan sangat open terhadap masukan dan tidak akan menganggapnya sebagai campur tangan kurang ajar.
Lalu, mana yang lebih baik antara model kompetisi dan kemitraan? Seperti yang saya tulis dalam bagian pertama tentang kompetisi dan kemitraan, masing masing menuntut kondisi berbeda. Dan dalam tulisan part 2 ini, kita juga bsia melihat bahwa keduanya akan membawa efek yang berbeda pula. kompetisi bisa dipakai jika dalam suatu lingkungan kerja diinginkan suatu quick boost. Sedang kemitraan lebih cenderung dipakai jika diinginkan incremental boost (tidak saya sebut slow karena memang tidak tepat). Keduanya mampu membawa kita pada kondisi tercapainya suatu angka performa tertentu. Namun, jika dilihat lebih dalam grafik, performa dari model kompetisi dan kemitraan akan tampak berbeda. Grafik performa model kompetisi akan mempunyai variasi tinggi dan rendah yang ekstrim, tersebar secara tidak merata di antara anggotanya. On the otherhand, kemitraan cenderung membentuk grafik yang tidak mempunyai variasi ekstrim. Performa anggota akan tampak merata, baik itu rata tinggi maupun rata rendah (tergantung dari fase yang sedang dijalani).
Jadi? Jika kita lebih memerlukan konsolidasi daripada letupan tentunya model kemitraan bisa kita pertimbangkan.
PS:
CMIIW. Dan mohon koreksinya untuk pemakaian term atau kosakata yang belum tepat.
PS 2:
Bwahahaha, ternyata salah tulis semua, harusnya kompetisi malah tertulis kompetensi. Duh Gusti.
Powered by ScribeFire.
Sphere: Related Content
This section gives me most headache. But experience told me that this blog mostly contains personal ramblings related to daily life, open source, and web 2.0. Recently, it turns out to be an idea-box where you can found ideas you can execute in your new startup ;). My ideas and opinions are not bullet proof and never intended to be one way stream. Kindly participate to improve your and my perspective regarding any particular post. Welcome aboard and enjoy your stay
sofie
August 29th, 2007 at 1:41 pm
konsolidasi penting tapi harus ada mekanisme konsolidasi yang terstruktur, sekali lagi jangan sampai menjerumuskan kelompok pekerja dengan beban yang harusnya bukan tanggung jawabnya, tapi tanggung jawab kelompok manajemen. Jika mekanisme sudah ada, maka dikembalikan ke staf apakah itu memungkinkan atau bisa disederhanakan. Distribusi informasi pada pola kemitraan juga penting,informasi pun disesuaikan dengan kelompok sasaran, pekerja, pengambil keputusan, atau siapa tapi tetap menganut nilai-nilai transparansi.Dan tentu pola berfikir dalam kemitraan adalah bagaimana anda menghasilkan output yang baik melalui proses yang baik pula, bukan menghasilkan output fantastis tanpa proses dan perencanaan yang baik alias sing penting ono proyek:D (la disinilah kemudian ada tahap financial management dan cash flow yang baik), hueueueueuueueueu, BAYAR!
Akhmad Fathonih
August 29th, 2007 at 1:49 pm
“bab” selanjutnya yang pengen aku pelajari (dan tulis) adalah kemitraan dan pola partisipatif, sebagian mungkin sudah kamu singgung di atas hon, tapi aku pengen nyari sumber tertulis jugak.
Jadi? jadi ya bayarnya nanti ya, habis beli buku baru