Google Reader doesn’t provide me tails
I guess what had made me switched from Akregator (and some other desktop RSS readers) was the instaneous aspect of Google Reader. I can read it anywhere and it loads much snappier than the desktop one. Desktop version of RSS reader use to load all the feed, sort them etc. That has been an unbearable overhead — which also what I feel about Akregator.
But, the more I use Google Reader, the more I am running out of feed items. The case with Google Reader is, once you’ve read (skim, mark all as read, name any reading method you have) that you’re done. That’s kinda suck isn’t it? I wonder why can we all have related items on our panel. Targetted feed anyone? Some may say it’d be distractious but hey this is Long Tail era. People only want to read what they want to read. It doesn’t make sense at all to have no tail for feed does it?
And this is Google we are talking about. Doh.
PS:
Does Rojo has those kind of tails I’ve just talked about, Mon?
Powered by ScribeFire.
Warnet Royale
Dilihat dari luar aja, warnet ini sudah tampak beda desainnya, lebih mirip kafe. Setelah ditengok ke dalam, ya memang beda. Total ada 32 room kata masnya, sekat-sekatnya lebar dan lorong-lorong yang mengantar kita ke sekat-sekat ini adalah jalan dengan batu-batu putih yang mewngingatkan kita akan jalan setapak dekat kolam dalam taman.
Tempat duduk? Sofa. Monitor wide screen flat. Tersedia konektor USB, headset dan sepertinya ada webcam juga. Headsetnya tidak mewah, jadi yang audiophile mungkin tidak akan termanjakan. Ada sedikit kendala ergonomis, akrena komputer posisinya dipinggir sofa dan keyboardnya tidak bsia ditarik, saya malah jadi susah nyadar. Tangan kiri saya ini sudah terasa pegal karena harus selalu terangkat untuk menyentuh keyboard. Mouse ada di “laci”, entah rasanya kurang smooth gerakannya walaupun sudah pakai mouse optik. Mungkin karena tekstur kayunya
Firefox sudah terinstall, jadi tak perlu khawatir bakalan dipaksa memakai IE. Cuman sayang, plugin flashnya belum terinstall, jadi saya tadi harus menginstall sendiri. A few clicks sih, dan cepet banget downloadnya. Entah tadi download apa ngga, tapi tetap aja menyita waktu :p. Ada juga Opera bagi fans Opera, semua bisa diakses via taskbar.
Oke, sekarang test speed. Hmmm, agak sedikit kecewa nih. Audio streaming via last.fm masih sempat putus-putus. Coba youtube ya. Hmmm. Aku test pake http://youtube.com/watch?v=FKWfk3SP4p8 ternayata agak hiccup juga.
Oke, jadi bagaimana kesimpulannya? Sebenarnya Royale ini menjanjikan karena environmentnya yang menjanjikan. tampak bbeda dan terkesan lebih mewah. Yang agak fatal adalah kualitas koneksinya ini. Dari melihat spanduk saya sudah berharap duluan bahwa saya akan bisa mendapatkan pengalaman multimedia tanpa cacat, tapi apa daya ternyata masih tidak bsia memuaskan saya. Kalau ditambah kafe dan fasilitas untuk laptop (yang ini udah ada tapi terbatas — pake kabel UTP) mungkin bisa menarik lebih banyak orang. Ya, nggak tahu juga ya sebenarnya konsep warnetnya seperti apa. Saya hanya kritikus tak tahu diri yang senang mencerca tanpa mau melihat susah payahnya membuat warnet ini :D. Hehehe. Moga-moga setlah soft opening ini kuliatasnya bsia ditingkatkan lagi. Jika tidak, kemungkinan akan jadi warnet-warnet yang lain tanpa punya banyak beda
PS:
Oh ya, lokasi warnet ini ada di seputaran Coffe Break dan Parsley. Pasti ketemu, cari aja yang lampunya paling gelap :)).
Branstorming dan teknik storyboard
Lagi-lagi dari The Disney Way. Dikatakan di sana bahwa mekanisme curah pendapat/brainstorm yang lazimnya kita temui, eg: dengan seorang pemimpin acara yang kemudian menanyai atau membuka kesempatan pada tiap peserta curah pendapat, adalah sangat kurang efektif. Kok bisa? Apa pembandingnya sehingga bisa mengatakan pola tersebut tidak efektif? Kan sudah demokratis banget itu? Well, pembandingnya adalah teknik storyboard atau mungkin lebih dikenal dengan metaplan oleh banyak orang. Masa sih?
Yang pertama adalah tentang multitasking atau time slicing. Dengan teknik brainstorming (curah pendapat) yang reguler, hanya satu orang pada satu saat bisa berbicara. Bayangkan jika semua orang bisa berbicara pada satu saat tanpa saling menginterupsi. Tidakkah itu akan lebih efektif bagi suatu proses pengumpulan pendapat? Teknik storyboard menggunakan alat berupa lembaran kertas dan alat tulis yang dibagikan pada peserta curah pendapat. Tiap peserta kemudian, dengan berbekal kata kunci yang diberikan moderator, menuliskan pendapatnya masing-masing. Setiap kertas mewakili sati pendapat dan tiap orang boleh menulis di lebih dari satu kertas. Terbayang bukan value paralelismenya? Tidak lagi emulated multitasking atau timeslicing, tapi realtime independent paralelism.
Yang kedua adalah faktor anonimitas. Pada pola curah pendapat reguler seringkali ditemukan kendala keraguan untuk menyampaikan pendapat karena takut akan efek samping dari identitas atau atribut lain yang melekat. Seorang bawahan mungkin takut idenya terlalu tidak berharga bagi atasan. Seorang staf marketing mungkin takut idenya tidak layak disampaikan dalam forum manajemen. Selain kendala “takut”, penyampaian pendapat secara bergantian sering menghadapi kendala “pembunuhan” ide. Adalah lazim jika ada orang lain mempunyai pandangan berbeda maka ia akan meng-counter pendapat seseorang yang berseberangan. Teknik storyboard mengeliminasi dua hal tadi karena teknik storyboard mampu menyediakan ruang anonim dan menghilangkan filter ide yang datang terlalu dini. Terbayang lagi kan berapa pendapat yang bisa dikumpulkan dengan adanya kenyamanan menyampaikan pendapat dan tidak adanya filter dini? Tentu saja akan lebih banyak pendapat bisa dikumpulkan dibandingkan dengan penggunaan teknik reguler.
Pendapat yang tidak tereliminasi dan apa adanya mampu memberikan informasi tambahan. Misalnya ternyata lebih dari 50% orang menyatakan bahwa pencarian dana adalah wacana esensial. Forum akan menjadi sadar bahwa wacana tersbut benar-benar esensial dan bukan sekedar wacana yang diketahui bersama saja.
Ketiga, sarana storyboard berupa potongan kertas yang bisa ditempel di papan tanpa batasan luas mampu memberikan gambaran visual yang lebih daripada curah pendapat yang dicatat di alat tulis elektronis atau kertas biasa yang memiliki batasan dimensi luas. Gambaran yang lebih luas juga pastinya bisa memberikan insight pada permasalahan atau sama sekali mengubah anggapan/hipotesa yang telah ada sebelumnya. Eg: Oh, ternyata justru pengalamanlah yang dicari-cari karyawan dan bukan faktor bonus.
Kertas yang bisa dipindah-pindah juga membuat usaha pengolahan curah pendapat menjadi lebih mudah — ibarat IDE yang memiliki sifat RAD. Forum bisa mengelompokkan hasil-hasil yang ada, bisa mengatur dan mengurutkan untuk berhipotesa, atau mencoba merumuskan dan mencoba solusi-solusi baru.
Begitulah. Tampak menarik bukan? Mari kita coba bersama-sama
Update:Kelupaan, salah satu hal penting dalam teknik ini, akibat anonimitas, adalah bahawa hasil dari curah pendapat ini nantinya akan menjadi milik bersama. Tentu saja rasa memilikinya akan sangat berbeda daripada hasil curah pendapat dengan teknik reguler.
PS:
Istri: Itu sih udah biasa pake setiap hari.
Suami: Eh? *bengong*
Powered by ScribeFire.
Anjing dan kucing berkejar-kejaran
Yah, gitu deh, kabarnya ada yang telat lagi bulan ini .. Duh, masa depan suram. Mana istri harus balik ke Jakarta. Ah, mau jadi apa bulan ini?!
Moga-moga aja Ramadhan ini membawa kesejukan dan rejeki buat kami. Pekerjaan baru mungkin, proyek baru mungkin, lebih dekat mungkin ..
Masa depan suram .. anjing dan kucing berkejar-kejaran .. di bawah kelam mendung yang kehitaman ..
Anjing dan kucing berkejar-kejaran. BERISIK!!! *sambit pake bakiak*
Powered by ScribeFire.
Kompetisi dan kemitraan Part 2
Menyambung tulisan sebelumnya, mari kita lanjutkan bersama bahasan kita tentang kompetisi dan kemitraan ini. Heheheh, sok serius.
Oke, setelah kita sudah membahas tentang asumsi atau requirement yang diperlukan dalam kompetisi dan kemitraan, kita beranjak menuju konteks yang berlaku di masing-masing model. Dalam model kompetisi, konteks yang berlaku adalah konteks mengkatalisasi atau lebih cocoknya meletupkan. Dalam kondisi stabil, pasti ada kecenderungan munculnya stagnansi atau degradasi performa secara incremental. Lumrah, biasanya kondisi aman dan makmur cukup handal dalam membuai orang untuk lengah dan pongah. Kompetisi, dalam kondisi tersebut, akan membawa bahan bakar baru yang bisa (meskipun tidak pasti) meletupkan performa kerja.
Sementara itu, di sisi lain, kemitraan memiliki konteks evolusi pasti. Kemitraan lebih berfungsi seperti semen di antara batu bata atau lubricant dalam gear. Sifatnya yang merekatkan dan memperlancar suatu proses akan membawa pada suatu perubahan pasti. Meskipun demikian prosesnya (dalam fase awal) bisa jadi memakan waktu yang cukup signifikan — tidak seperti kompetisi yang bisa melecut dalam kecepatan tinggi in any unpredictable time.
Kompetisi mengedepankan iklim individu, oleh karena itu sangat cocok untuk digunakan dalam suatu proses yang saling bebas alias tidak memiliki dependensi satu sama lain, misalnya: riset, dan penjualan. Sebaliknya, dalam pelaksanaan proses yang (saling) memiliki dependensi, kemitraan lebih pas untuk diterapkan. Kemitraan mendukung iklim kelompok. Dengan adanya pengakuan kesetaraan dalam model menyebabkan dependensi proses tidak menjadi suatu isu signifikan atau malah tidak menjadi isu sama sekali. Seorang anggota suatu kelompok kemitraan akan menjadi cenderung proaktif karena tidak menganggap proses lain sebagai sesuatu yang tidak patut dipedulikan. Dan sebaliknya, anggota kemitraan dalam proses lain akan sangat open terhadap masukan dan tidak akan menganggapnya sebagai campur tangan kurang ajar.
Lalu, mana yang lebih baik antara model kompetisi dan kemitraan? Seperti yang saya tulis dalam bagian pertama tentang kompetisi dan kemitraan, masing masing menuntut kondisi berbeda. Dan dalam tulisan part 2 ini, kita juga bsia melihat bahwa keduanya akan membawa efek yang berbeda pula. kompetisi bisa dipakai jika dalam suatu lingkungan kerja diinginkan suatu quick boost. Sedang kemitraan lebih cenderung dipakai jika diinginkan incremental boost (tidak saya sebut slow karena memang tidak tepat). Keduanya mampu membawa kita pada kondisi tercapainya suatu angka performa tertentu. Namun, jika dilihat lebih dalam grafik, performa dari model kompetisi dan kemitraan akan tampak berbeda. Grafik performa model kompetisi akan mempunyai variasi tinggi dan rendah yang ekstrim, tersebar secara tidak merata di antara anggotanya. On the otherhand, kemitraan cenderung membentuk grafik yang tidak mempunyai variasi ekstrim. Performa anggota akan tampak merata, baik itu rata tinggi maupun rata rendah (tergantung dari fase yang sedang dijalani).
Jadi? Jika kita lebih memerlukan konsolidasi daripada letupan tentunya model kemitraan bisa kita pertimbangkan.
PS:
CMIIW. Dan mohon koreksinya untuk pemakaian term atau kosakata yang belum tepat.
PS 2:
Bwahahaha, ternyata salah tulis semua, harusnya kompetisi malah tertulis kompetensi. Duh Gusti.
Powered by ScribeFire.
Kompetisi dan kemitraan Part 1
Sayang buku The Disney Way-nya sedang tidak saya bawa, kalau tidak tentu akan saya cite-kan paragraf yang memberikan bukti bahwa pola kemitraan itu lebih baik daripada pola kompetisi. Hmm, dengan model pikiran saya yang selalu menganut falsafah: tergantung, mungkin memang pernyataan di atas tidak selalu benar juga. Pernyataan tersebut pasti menuntut seuatu asumsi-asumsi tertentu. Kebetulan, sebelum tidur larut semalam, pikiran saya berkecamuk, tak bsia berhenti memikirkan hal ini. Setelah berdialog dengan istri (oh ampun, dia tahu banyak sekali :*), akhirnya saya gatal untuk menulis perbandingan antar model kerja kompetisi dan model kerja kemitraan. Monggo dicermati bersama.
Kita mulai dari kompetisi. Kompetisi memerlukan asumsi-asumsi, antara lain: tersedianya reward (dan pusnihsment). Tentu saja, akan susah memicu kompetisi jika tidak ada sesuatu berharga yang bisa dikejar. Sesuatu yang berharga ini bsia jadi bahasan tersendiri, tapi intinya adalah sesuatu ini harus benar-benar bisa dirasakan langsung oleh pelaku kompetisi. Asumsi selanjutnya adalah tersedianya kondisi aman atau stabil. Sebenarnya saya agak ragu dengan asumsi ini. Tapi saya berpikir, jika kondisi tidak aman atau tidak stabil, iklim kompetisi yang meletup-letup saya kira bisa berbahaya bagi kondisi tempat berlangsungnya kompetisi. Bisa saja kondisi yang tidak stabil menjadi semakin fragil dan mungkin saja kolaps.
Berbeda halnya dengan model kerja kemitraan. Model kemitraan memerlukan asumi tersedianya komitmen dan kesepahaman. Bahwa diperlukan usaha bersama. Bahwa diakui adanya dependensi antar komponen dan yang tidak boleh lupa bahwa harus disepakati bahwa semua pihak adalah setara kedudukannya, semuanya penting dan mempunyai peran khusus yang tidak bisa digantikan. Kemitraan juga menuntut trust sehingga suatu task bisa didelegasikan dengan aman dan nyaman. Phew, trust ini juga bisa jadi bahasan yang panjang. Unfortunately, saya belum dapat banyak pencerahan tentang seluk beluk trust ini :D. Yang terakhir, kemitraan ini mempunyai tidak mempunyai asumsi kondisi lingkungan. Pada lingkungan yang tidak stabil, kemitraan cocok untuk dipakai karena bisa memberikan kohesi, dan pada lingkungan yang telah stabil serta kohesif model kemitraan bisa meningkatkan performa karena sifatnya yang seperti lubricant pada gear-gear peserta kemitraan.
Whoaa (heboh) .. disambung lagi nanti ya, masih ada tiga poin perbandingan lagi, plus kesimpulan
PS:
CMIIW. Mohon bimbingannya pada kakak-kakak yang sudah tercerahkan. Yoroshiku onegai shimasu!
Powered by ScribeFire.
Ratatoullie
I didn’t have much of expectation about this movie actually. But the “Walt Disney” printed on the screen really woke me up. I’ve been reading, half way of, “The Disney Way”. Pretty much it told me many things about team and or management. The book adore and endorse four principles of Disney: Dream, Believe, Dare, Do. The book also stated that Disney was really, completely, did what he said. Even, every piece of those four principles can be found in many of Disney’s movie — so the book said. This half way reading, really did amazed me. So, having found Walt Disney on the screen was absolutely extremely … exciting.
My heart was changed. I became expecting much, and Disney (and Pixar) really did give it all for me. The four principles and also the story about team work. I can assume I don’t have to tell you which parts it were, should I?
Finaly, to quote Remy: It’s so .. lightingy! Let’s do that again.
Powered by ScribeFire.
PHP Capistrano-like Deployment Tool
I’m sure you’ve heard a lot about capistrano. It’s a very cool and handy tool. But sometime, you might not be able to meet its requirement. You have to have Ruby, and of course shell access. Well, I’m a geek trapped in the 1.0 age. You must believe me if I told you: I don’t have any shell access on my hosting provider. But I want Capistrano. For God sake, stop crying! Here some lines of PHP for your capistrano need:
// Neofreko's capistrano ![]()
$date = date('Ymd');
@system("wget --mirror -nH --cut-dirs=3 -Psvn$date -o log$date --http-user meoncapistrano --http-password meoncapistrano http://trac.cz/svn/meprojectrocks/trunk");
// make link
@system("ln -s -f svn$date current");
// remove index.html
@system("rm -f current/index.html");
?>
You know you can do more with Phing, though it will be less readable than Ruby syntax :D.
What did I gain? Well, obviously, compared to doing local svn export and manually push the files via ftp, this one run blazingly faster! What can I say, it is wget-ing from ‘backbone’ to ‘backbone’. My local-to-live-server line just won’t cut it :)).
PS:
OK Rail-ers, move on, I’m not playing troll here
Powered by ScribeFire.
Kerjaan Linus Torvalds Tiap Harinya
This would be a maybe-not-funny joke. But anyway, I’ll post it :p. It’s all started after I posted a link to an email conversation within kde mailing list to #kuliax. And then stwn start discussing about git (which actually what the email is all about: Linus Torvalds on git and KDE)

Credits to Mas Ariya for sharing the conversation link on his blog (via Planet Terasi).
Powered by ScribeFire.
Anybinding on googlecode.com
Yep, I finally decided to make it available for public consumption via googlecode.com project hosting. I don’t have much of a feedback internally so I decided to bring it outside. Hopefully I can have more responses and test cases here, and a side value of adding one more item to my short resume.
I have talked about anybinding before. To say it again, anybinding is OO-wise union in Java. Coming from the general laziness of recoding the source to match the data structure changes. Let me cite the README for you:
Anybinding gives the flexibility to interprete and access data in OO
manner. Basically we can call it advanced union (remember C). The
flexibility will be powered by the user-definable marshaller, so
there’s no limit on what object it can handle. Of course there might
be, somehow, a upperbound came from design decision![]()
That’s it. I really hope it can be useful to someone out there having the same urge as I did. Download the code, play with it and improve it anyway you like ^^.
PS:
- I’ll be uploading a copy of GPL v2 license rite away. Done (see COPYING)
- I need to upload more samples, especially to show how to work with PropertyBlock. Done
Powered by ScribeFire.










