Sebenarnya belum saatnya saya berbicara tentang bisnis, apalagi dalam konteks tricky semacam opensource. Dan kalaupun saat tidak menentukan, pengalaman saya tentunya belum cukup umur untuk melegitimasi dan menjadikan masuk akal, semua pendapat yang akan saya tulis di sini.

Tidaklah saya ingin berpanjang cerita dengan memberi pengantar tentang relatif sulitnya berbisnis. Langsung saja kita menuju ke esensi tulisan ini. Bahwa berbisnis di jalur opensource juga tidak berarti lebih mudah meskipun pemainnya relatif jauh lebih sedikit daripada pemain bisnis non opensource. Perhatikan kata kuncinya: tidak mudah, pemain relatif jauh lebih sedikit. Apa artinya? Kesempatan berinovasi dan berkreasi menemukan revenue generation system (business model) masih terbuka lebar. Mari kita buka mata. Tapi hati-hati, meniru tak selalu akan sama suksesnya.

Salah satu yang bisa di-highlight dari berbisnis di jalur opensource adalah penetrasi pasar. Dengan sifatnya yang terbuka, dan biasanya diikuti dengan kebebasan distribusi (people tend to confuse opensource - available source with the opensource term defined in opensource.org as founded by that Debian guy and that briliant hacker ;)), penetrasi pasar relatif menjadi lebih lebar. Tentu saja, kemudahan instalasi dan bagusnya kualitas akan menjadi faktor pengali.

Kebebasan distribusi dan sifat copyleftnya juga bisa menjadi booster bagi penguatan brand image. Dengan biaya yang relatif sedikit, atau bahkan tanpa biaya, kebebasan distribusi telah menjadi marketing tool. Every user is our marketing staff. Dengan kehati-hatian dalam menjaga mutu produk, jumlah user base bisa dipertahankan bahkan mungkin ditingkatkan (secara otomatis). Peningkatan jumlah user base tentu saja relatif linear dengan kekuatan brand dari produk terkait.

Dari tadi penetrasi pasar dan penguatan brand saja, lalu bagaimana dengan revenue. Bagaimana mungkin vendor bisa bertahan tanpa uang unutk menutup cost produksi. Ah, saudara ini, sudah dikasih umpan malah minta ikan. Ya sudah. Kekuatan brand dan jumlah user base adalah sertifikat sukses. Tentunya tidak semua orang atau perusahaan akan merasa cocok dengan produk as is tersebut. Pada suatu titik tertentu akan ada kemungkinan ketidakcocokan atau inefisiensi produk tersebut dalam rangkaian kegiatan usahanya. Ini berarti peluang kontrak pengembangan. Beberapa orang atau perusahaan lain mungkin sudah merasa cukup efisien dengan produk as is, tetapi tetap saja pasti ada yang menginginkan support dengan SLA tertentu atas produk terkait. Ini peluang kontrak support dan maintenance. Dan biasanya yang concern dengan support dan SLA adalah perusahaan dengan standar tertentu. Tentunya perusahaan yang cukup bonafit karena mereka telah melakukan mitigasi untuk resiko-resiko yang meungkin terjadi pada produk yang mereka pakai, dan juga mungkin telah cukup pintar untuk berstrategi memotong ongkos pemeliharaan sistem dengan jalan “outsource”.

Ah, ikan-ikan kakap macam itu kan tidak selalu muncul dan biasanya susah ditangkap? Nah, di sinilah titik yang menentukan. Inilah pengkolan bisnis, inilah perempatan masa depan. Anda mau kemana? Menangkap semua ikan-ikan kecil bahkan sampai telur ikan tetapi kebingungan karena jala anda sudah penuh waktu ikan besar muncul. Atau menangkap ikan kecil secukupnya, dan menggunakanya untuk memancing ikan besar. Pertanyaan inilah yang harus Anda jawab terlebih dahulu sebelum anda mulai membaca tulisan saya ini :p

Powered by ScribeFire.

Sphere: Related Content