Neofreko / 810 posts / 1,958 comments / feed / comments feed

Rebuttal: Linux is dead 2013

Begitulah judul e-mail yang dikirimkan ke info@jogja.linux.or.id dan akhirnya diforwardkan ke milis jogja-linux oleh Willy. Seperti yang diwanti-wanti oleh Willy, jangan dijadikan flame war. Toh, si penulis (Rochmad Budi Santoso) e-mail sendiri juga telah berkata bahwa imel-nya adalah penyemangat dan bukan suatu bentuk pesimisme.

Bukanya saya menakut-nakuti para penguna
linux, Tidaklah demikian tulisan ini saya buat sebagai pemacu pagi komunitas
di Linux supaya terus maju dan berkembang,saya sendiripun adalah salah satu
dari banyak penguna Linux di dunia ini, lalu mengapa judulnya harus demikian
suatu yang ironis bukan

Berikut ini adalah tanggapan saya untuk beberapa hal yang disebut dalam imel tersebut:

Seharusnya ada
penyetandaran ( standarisasi ) nama aplikasi dilingkungan Linux itu sendiri
mengapa demikian supaya ketika kita mengunakan semua distro nama
aplikasinyapun sama sehingga kita tidak merasa direpotkan, mungkin yang
berhak atau yang berwenang dalam hal ini adalah GNU linux,kita tunggu
saja,mungkin.

Saya pikir GNU/Linux tidak punya wewenang sama sekali dalam hal standarisasi nama. Menurut saya, nama aplikasi adalah hak pembuat aplikasi. GNU/Linux, dalam hal ini komunitas dan supporternya, hanya bsia memberikan saran atau usulan standarisasi. dan ini pun tidak dalam tataran pemberian nama. Sejauh yang saya tahu, sudah ada freedesktop project yang berusaha memperjuangkan konsistensi antar dekstop, dengan jalan menaungi para developer dan menyatukan visi guna menyusun konsistensi. Konsistensi di sini bisa berupa aturan spesifik mengenai penamaan atau peletakan direktori sampai dengan konsistensi yang diperjuangkan lewat kompatibilitas (misal komunikasi aplikasi via DBUS).

Telah ada juga Linux Standar Base (LSB) project yang bergerak pada aras yang lebih rendah (struktur internal dalam sitem operasi Linux). Memperjuangkan (via sertifikasi) kompatibilitas pada level source dan binary, supaya aplikasi bisa berjalan pada sistem linux (distro) yang berbeda. Kalau kita baca di websitenya:

The LSB offers a cost-effective way for application vendors to target multiple Linux distributions while building only one software package. For end-users, the LSB and its mark of interoperability preserves choice by allowing them to select the applications and distributions they want while avoiding vendor lock-in. LSB certification of distributions results in more applications being ported to Linux and ensures that distribution vendors are compatible with those applications. In short, the LSB ensures Linux does not fragment.

Kemudian ..

Sebagai penguna linux yang sudah hampir 3 tahun lebih saya merasa
perkembangan dilinux selama ini terasa mandek,bahkan bisa diakatan lambat
mengapa demikian coba kita tengok kembali dari tahun 2000-2007 sekarang apa
yang sudah perkembang di Linux itu sendiri selain perbaikan kernel,file
system dari ext samapai ext3,Kde,Gnome,mugkin hanya itu saja yang terasa
mencolok,lalu apakah sebagai penguna awam seperti saya hal itu
diperlukan/penting, jawabanya tidak terlalu penting,mengapa demikian saya
secara pribadi kurang merasa diutungkan, lalu apa saja yang diperlukan oleh
penguna awam seperti saya ini tentunya pengunaanya yang mudah dari instalasi
sampai pengoprasian

Wah, kalau menurut saya sendiri, perkembangan GNU/Linux justru sangat menakjubkan. Redhat 7 yang saya kenal tahun sekitar 2001, menjadi distro sekelas Fedora dan RHEL (yang ini belum pernah mencicip) sekarang ini. Usability? Meningkat sangat jauh. Fitur? Sekarang malah sudah merambah ranah virtualisasi OS (KVM). Desktop? Saya yakin semua sudah pernah melihat aksi Compiz atau Beryl. Kemudahan pengoperasian? Siapa yang belum mencoba K/Ubuntu? Ditandai kedatangan Ubuntu, saya rasa, mitos bahwa GNU/Linux hanya untuk server ataupun susah diinstall sudah mulai menghilang dalam pandangan masyarakat umum.

kenyatanya masyarakat kita masih engan untuk berpaling dari Windows
walaupun cd linux bertebaran di toko-toko yang walaupun harganya sangat
murah 20rb sekalipun masih ogah-ogahan,masarakat kita masih berangapan
mengapa harus susah-susah dengan linux yang belum tentu semua pekerjaanya
bisa diatasi dilinux, kenyataan diduniapun masih windows yang berjaya,dan
orang-orang pun rela mengeluarkan banyak uang untuk bisa menikmati Os ini
walaupaun disekitarnya ditawarkan OS yang labih murah bahkan gratis
sekalipun mereka masih engan untuk berpaling, mengapa demikian ??? itu
adalah pertanyaan yang mestinya harus cepat kita jawab.

Kenapa banyak orang yang masih enggan berpaling atau paling tidak mencoba GNU/Linux? Jawabannya bisa beragam sesuai dengan latar belakang masing-masing orang. Bagi yang membutuhkan aplikasi sekelas Adobe Photoshop atau 3DSMAX mungkin akan enggan pindah karena belum ada penggantinya, meskipun dengar-dengar banyak juga warga Hollywood yang memakai GNU/Linux dalam produksi filmnya. Tapi, bagi pengguna generik seperti saya, tak ada alasan lagi untuk tidak pindah. Toh, butuhnya hanya text editor dan sesekali Openoffice untuk membuka attachment :p

Lalu mengapa orang rela membeli Windows? Jawabanya juga macam-macam. Ada yang membeli karena memang membutuhkan, misalnya karena belum sempat porting aplikasi fundamental yang hanya jalan di Windows. Atau karena secara hitung-hitungan belum mampu untuk migrasi. Atau memang belum mendapat hidayah :D. Maksud saya, belum mendapatkan pencerahan tentang GNU/Linux. Jadi, masih menyimpan kepercayaan jaman baheula bercampur FUD.

Entah ini hanya perasaan saya saja, saya merasa mitos tentang GNU/Linux susah dan menakutkan masih bercokol di masyarakat. Aduh, Windows aja sudah susah gitu, nggak ngerti mesti pake klik kiri apa klik kanan. Apalagi kemarin itu ada brontok-brontok apa gitu, data saya jadi hilang semua. User seperti yang saya ilustrasikan barusan sebenarnya tidak peduli Windows atau Linux, malah sudah punya ketakutan kalau menggunakan komputer itu susah dan menakutkan. Sedang bagi user yang sudah ngeh dengan komputer mungkin suka menjadi takut karena sering mengdengar: Wah, saya baru apt-get kernel linux-2.6.20-rc5.src.deb lo. Habis di-configure trus make dan make install sekarang laptopku sudah bisa hibernate. Cepet banget dah. Padahal pembicaraan yang didengar ini adalah konsumsi pengguna level power user atau administrator.

Lalu kembali ke pertanyaan: mengapa? Karena masyarakat belum kenal. Karena masih ada mitos yang salah. Lalu apa jawaban dari pertanyaan yang ditujukan pada kita sendiri, dan harus kita jawab? Simpel. Pakai dan tunjukkan. Niscaya mereka akan terpesona :).

Sphere: Related Content

1 Comment

  1. Faizi — 6/10/2008 #

    Salam

    Bagi pengguna Adobe Phostoshop seperti saya, agak sukar untuk menggunakan Linux bagi kerja-kerja seharian. Versi terkini Adobe Photoshop yang berjaya saya install menggunakan Wine ke atas Slackware 10.0 adalah versi 7, itu pun versi terkini photoshop adalah Photoshop CS2 pada waktu itu.

    Mungkin setelah ada aplikasi yang dapat menandingi aplikasi-aplikasi native Windows seperti Photoshop, ramai yang akan beralih kepada Linux.

    Faizis last blog post..Disable remote assistance in Microsoft Windows Vista

Leave a comment

« Back to text comment