Tadi siang, istri tersayang memberitahu bahwa ada e-Lifestyle hari ini bertopik: Pilih Windows atau IGOS?. Ya, bisa ditebak, topik ini termotivasi dari MoU Microsoft dan pemerintah RI, yang sempat ramai dibicarakan kemarin oleh banyak pihak dengan berbagai macam sudut pandang.
Saya coba melihat e-Lifestyle ini dari sisi lain, tidak dari segi persona Roy Suryo, karena sudah basbang. Dalam e-Lifestyle kali ini saya merasa bahwa yang dibicarakan justru hanya seputar biaya saja. Tentang MoU yang bisa bermakna harus mengantarkan uang ke luar negeri alih-alih memutarkan di dalam negeri untuk menghidupi rakyat sendiri. Saya yakin aspek lainnya juga ada dan bisa dikupas lebih dalam. Misalnya tentang kontroversi HaKI, bagaimana pelanggaran HaKI selama ini sebenarnya juga turut menyumbangkan kecerdasan bagi rakyat Indonesia
. Bisa juga dikaitkan dengan kemandirian, dan pembelajaran yang harus ditekankan sebagai goal dari apapun pilihan yang akan diambil. Yang jelas, pilihan tersebut tidak akan jadi sederhana. Saya rindu kontroversi yang direlasikan dengan berbagai macam aspek. Yakni aspek-aspek yang telah lama dikritisi akibat timbulnya berbagai macam ketidakpuasan.
Jika MoU ini dalam jangka panjang dan berliku bertujuan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia, tentunya pilihan “go-or-no-go”-nya MoU harusnya berada pada tangan rakyat pula. Oleh karena itu, sekali lagi, informasi yang transparan, berimbang dan objektif adalah menjadi sesuatu yang mutlak. Terlepas dari apapun yang terpilih dari MoU tersebut, masyarakat harus mendapatkan pengalaman dan pembelajaran darinya. Pemerintah pasti tidak akan suka kalau nantinya tiba-tiba terjadi kerusuhan kembali, gedung dibakar, dan pejabat digulingkan, karena rakyat menderita akibat pilihan semena-mena yang diambil pemerintah.
Cukup tentang filosofi dan nasionalisme, e-Lifestyle hari ini kurang terasa gregetnya. Iya, personally, Pak Rus kurang bersemangat hari ini. Kembali lagi ke naturality para geek. Yang tampaknya selalu bisa berbicara dengan telepati dan gestures antar sesama geek, namun selalu gagal (total?) dalam berkomunikasi dengan massa (terkecuali Roy Suryo — that’s if you agree to call him geek). Dalam acara ini saya tidak bisa mendapatkan kehebohan penghematan 50%. Apalagi diimbuhi dengan kelihaian pemlintiran kata CTO, which is a good ol’ Microsoft’s FUD.
These all boils down to: FOSS definitely needs a good PR.