Aduuuh, plis deh. Sekarang ini bukan jaman Siti Nurbaya. Dari dulu Dewa 19 juga udah bilang kan, cinta bukan soal harta dan tahta. Jadi inget cerita perjodohan habib di kumpulan cerpen yang ditulis ibu Labibah Zain. Seorang habib harus menikah dengan yang sederajat, sehingga sang tokoh utama dalam cerita itupun akhirnya menikah dengan seseorang yang bukan pilihannya. Setiap orang yang telah menikah pasti berada di salah satu cerita: menikah dengan orang pilihannya, menikah dengan pilihan orang lain. Jika ceritanya adalah dulunya menikah dengan pilihannya sendiri, berarti akan sangat logis untuk membiarkan anaknya menikah dengan pilihannya sendiri juga. Hey, bukankah itu yang terbaik yang pernah mereka (orang tua) alami? Dan jika ternyata dulunya meraka menikah degnan pilihan orang lain, bukankah ini saatnya mewujudkan mimpi mereka saat itu; yaitu menikah dengan pilihan meraka sendiri dengan wujud nyata mendukung anaknya untuk menikah dengan pilihannya sendiri.

*sigh* Semuanya ada dua sisi. Sisi yang lain malas untuk aku katakan karena tidak mendukung meskipun dasarnya adalah positive prejudice.

Cerita hidup memang bervariasi antara seseorang dengan orang yang lain. Ada yang lancar-lancar saja, ada yang mengalami cobaan, ada yag mengalami banyak cobaan, dan sebagainya. Aku ucapkan selamat bagi anda-anda yang mendapatkan nikmatnya kelancaran, dan aku ucapkan selamat berjuang bagi anda-anda yang sedang berjuang. Mari berjuang! Ganbatte!!

PS:
Hayah, ini bukan tentang aku.

Sphere: Related Content